Banjir dan Longsor Manado, Warouw: Kenali Fenomena Alam, Segera Lakukan Kajian Ekologis

0
35

SULUTIMES, Manado – Banjir dan tanah longsor yang melanda Kota Manado beberapa waktu lalu, mengakibatkan sejumlah titik mengalami kerusakan parah dan ada korban yang meninggal dunia. Bahkan Rob atau banjir yang diakibatkan oleh air laut pasang yang menggenangi daratan, juga ‘menyerang’ Kota Manado beberapa waktu lalu.

Menanggapi hal ini, Dr. Ferol F. Warouw, S.T., S.H., M.Eng., mengatakan bahwa pertama kita harus kenal akan fenomena alam ini baik fenomena banjir, fenomena tanah longsor, fenomena banjir rob maupun gempa bumi. Karateristuj perairab sangat dinamis, kadang tenang, tapi kadang terjadi gelombang tinggi yang berkekuatan dahsyat dan berdampak pada lingkungan pesisir.

“Tak Kenal maka tak sayang. Jika kita memahami perilaku alam maka kita bisa memprediksi akan kondisi-kondisi bencana yang akan terjadi, misalnya; jika tidak memperhatikan drainase dan menutup atau mengintervensi daerah aliran sungai menjadi pemukiman maka banjir pasti akan terjadi,” jelas Ferol Warouw, yang tercatat sebagai Dosen Unima, Sekretaris Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Unima, Senin (25/1/2021).

Ferol Warouw, Doktor Ilmu Lingkungan jebolan Universitas Indonesia melanjutkan, membuang sampah secara sembarangan juga menjadi bagian dari penyebab terjadinya banjir. Demikian juga dengan tanah akan labil dan menyebabkan tanah longsor. Bagaimana solusi terhadap kondisi fenomena alam ini?

“Tentu pertama kita harus melakukan kajian ekologis yang melibatkan berbagai stakeholder lintas wilayah administrasi karena alam ini tidak mengenal batasan wilayah administrasi. Alam hanya mengikuti batasan-batasan ekologis, jika kita tidak membuat kajian ekologi secara komprehensif maka otomatis bencana akan kita hadapi. Kenali perilaku alam, segera lakukan kajian ekologis,” tegas Warouw.

Dilanjutkannya, Kejadian banjir di Kota Manado sudah merupakan fenomena berulang dan sudah seharusnya pemerintah, masyarakat swasta dan akademisi bergandengan tangan untuk kemudian bersama-sama memitigasi kondisi ini secara bersama-sama.

Mitigasi bencana melalui kajian ekologis sudah merupakan hal mendesak dan pemerintah harus menjadi fasilitator agar kajian mitigasi bencana bisa segera terwujud dalam bentuk SOP maupun aturan yang jelas dan dipahami oleh masyarakat.

“Contohnya aturan dilarang membuang sampah, aturan garis sempadan sungai aturan area rawan bencana ini harus diketahui oleh seluruh masyarakat dan tindaklanjuti dengan penegakan aturan. Saya hingga saat ini belum melihat punishment terhadap masyarakat yang membuang sampah sembarangan dari dalam mobil,” ujar Warouw.

 

(Jo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here