Lima Tantangan Berat Parpol Baru Pada Pemilu 2024 (Bagian II)

0
5

SULUTIMES, Manado – Ketiga, perjuangan parpol akan terbentur juga dengan persepsi publik terhadap parpol yang dianggap makin buruk belakangan ini. Penilaian itu disebabkan buruknya kinerja parpol dalam mempersiapkan calon pemimpin publik.

Akibatnya banyak politisi parpol melakukan korupsi, menghalalkan segala cara untuk berkuasa seperti menyogok pemilih (politik uang) untuk mendapatkan suara, menyuap penyelenggara untuk mengubah hasil pemilu serta mengadu domba pemilih dengan politisasi sara. Tata kelola kekuasaan oleh kader-kader parpol kerap bukan untuk kepentingan rakyat tapi hanya untuk kepentingan diri sendiri dan parpol.

“Publik sepertinya tidak akan yakin apakah tabiat parpol baru akan berbeda dengan tabiat buruk parpol lama. Sebab sebagian besar parpol yang sudah ada saat ini, waktu proses perjuangannya untuk menjadi peserta pemilu juga melakukan cara memengaruhi pemilih dengan ikrar dan janji sebagaimana apa yang dilakukan oleh pendiri parpol baru saat ini,” ungkap Liando.

Ferry Liando melanjutkan, pasca tumbangnya orde baru dan memasuki era reformasi ada banyak elite mendirikan parpol baru. Untuk mendapatkan dukungan pemilih, para pendiri selalu mengajak masyarakat untuk berkaca pada parpol lama yang cenderung korup, nepotisme dan kolusi. Sehingga mereka menawarkan diri sebagai elite dan parpol baru sebagai solusi.

PKS pada awal pendiriannya mengusung semangat dakwah dan antikorupsi. Tapi Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq ditangkap KPK karena korupsi. Partai Gerindra lahir bermula dari keprihatinan para pendiri, untuk mengangkat rakyat dari jerat kemelaratan, akibat permainan orang-orang yang tidak peduli pada kesejahteraan. Belakangan kader parpol itu Edhy Prabowo ditangkap KPK karena korupsi dan dinilai tidak peduli dengan kesejahteraan rakyat. Untuk menjadi daya tarik pemilih, partai Demokrat diawal pendiriannya memiliki slogan ‘Katakan Tidak pada Korupsi’. Tapi belakangan Ketua umumnya Anas Urbaningrum dan kader lainnya seperti Andi Malaranggeng, Nazaruddin dan Angelina Sondakh masuk dalam jajaran koruptor kelas kakap.

Ketika PKB didirikan semangat awal para pendiri adalah untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih dan terpercaya dalam rangka peningkatan pelayanan publik, namun kenyataannya salah satu kader Imam Nahrawi menjadi tersangka dalam kasus dugaan suap KONI kepada Kemenpora terkait dana hibah Tahun Anggaran 2018. NasDem sejak awal pembentukannya mengampanyekan perjuangan restorasi.

Boro-boro mengubah menjadi baik malah kadernya Rio Capella dipenjara selama 2,5 tahun setelah tertangkap tangan oleh KPK karena menerima uang Rp250 juta. Ketika itu, Capella masih menjabat sebagai anggota DPR di Fraksi Partai NasDem.

PAN di awal pendiriannya bercita-cita menjadikan agama dan etika berbangsa serta bernegara sebagai landasannya. Tapi kadernya yang merupakan Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan ditetapkan tersangka oleh KPK terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Partai-partai bekas orde baru yang hingga kini masih eksis seperti PDIP (dahulunya disebut PDI), Golkar dan PPP tidaklah kalah kelasnya dalam mengoleksi koruptor.

“Melihat performa parpol saat ini, tentu tidaklah gampang bagi parpol baru untuk eksis. Parpol baru akan terdampak limpahan dosa-dosa politik parpol terdahulu. Apalagi harapan dan cita para elite-elite pendiri parpol baru sama persis dengan kalimat-kalimat, harapan dari pendiri parpol yang telah ada saat ini,” kata Liando.

Keempat, belajar dari pengalaman pendirian parpol terdahulu, ternyata motif sebagian besar parpol didirikan bukan semata untuk kepentingan publik. Banyak elite parpol yang kalah berkompetisi untuk menjadi ketua umum parpol atau berkompetisi merebut rekomendasi pencalonan presiden atau jabatan-jabatan tertentu. Kalah berkompetisi di internal maka hal yang dilakukannya adalah membentuk parpol baru. Prabowo, Wiranto, dan Surya Paloh dahulunya adalah kader Golkar.  Elite-elite pendiri PAN dan PKB sebelumnya pernah di PPP. Fenomena ini mirip dengan pendirian parpol Gelora yang pendirinya kini adalah dari mantan  elite-elite PK, parpol Ummat dari PAN, parpol Masyumi dari PPP.

Baik di pusat dan daerah, meski tingkat perolehan suara parpol baru itu kecil tapi tetap menjadi efektif sebagai bergaining posisi untuk mendapatkan jabatan. Parpol bari bergabung dan menyatakan dukungan pada calon presiden/wakil presiden yang diusung parpol lainnya. Konsekuensi atas semua itu adalah diperoleh banyak jabatan di BUMN, cukup untuk mendapatkan penghidupan yang layak memenuhi makan keluarga. Dalam hal ini janji parpol untuk mewujudkan kepentingan masyarakat tidak terpenuhi karena gagal memperoleh kursi di parlemen.

Di daerah, parpol-parpol yang kerap disebut gurem ini kerap dijodohkan atau sekedar diperdagangkan kepada parpol lain dalam rangka memenuhi ketentuan ambang batas pencalonan kepala daerah. Ada parpol besar yang perolehan kursinya tidak mencapai perolehan kursi  20 persen di DPRD sebagaimana syarat UU 10/2016. Maka cara untuk mencukupinya adalah membeli kursi milik parpol gurem agar syarat ambang batas terpenuhi.

Kelima, adalah tantangan dalam merekrut figur sebagai daya tarik. Figur merupakan cara lain untuk mempengaruhi pemilih selain pada ketertarikan pemilih pada ideologi, platform atau branding. Sejumlah parpol sempat menjadi fenomenal dan berada dipapan atas perolehan suara pemilu, disebabkan karena pengaruh figur yang menjadi simbol parpol. Seperti Ibu Megawati Soekarno Putri di PDIP, Gus Dur di PKB dan Amin Rais di PAN serta Susilo Bambang Yudhoyono di Demokrat. PSI, meski tidak mencapai ambang batas perolehan kursi DPR RI pada pemilu 2019 namun perolehan kursi parpol itu di daerah sangat dominan. Strategi marketing politic dengan cara “menjual” figur Basuki Tjahaya Purnama menjadi salah satu daya tarik pemilih terhadap parpol ini.

“Tantangan terberat dari parpol baru adalah apakah mampu menyodorkan figur populer yang bisa menjadi magnet pemilih. Tanpa figur, maka kekuatan finansial parpol tidak akan menjamin” ujar Ferry Liando.

(***/Jo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here