Mengenang Bung Karno dan Gus Dur

0
18

Oleh: Sofyan Jimmy Yosadi (SJY)

Yang Chuan Xian 楊 传 贤

 

Saya mengagumi semua pemimpin bangsa, terutama para Presiden Republik Indonesia,  baik Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Bu Mega, Gus Dur, Pak SBY hingga Pak Jokowi. Kita selayaknya wajib menghormati para pemimpin bangsa, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, mereka telah berperan sangat besar pada eranya masing-masing.

Saya suka sejarah dan mengikuti perjalanan kisah sejarah para Presiden Republik Indonesia. Saya beruntung bisa bertemu beberapa Presiden RI dalam berbagai kesempatan. Di perpustakaan pribadi di rumah, saya mengoleksi semua buku tentang para Presiden RI. Tidak hanya satu dua buku tapi semua buku tentang Presiden RI, akan saya cari dan membacanya serta koleksi di perpustakaan pribadi di rumah. Buku yang paling banyak saya koleksi adalah Bung Karno dan Gus Dur.

Saya tidak pernah bertemu Bung Karno. Mengenal beliau hanya dari buku, cerita dari alm. Papa saya, menyimak berbagai berita hingga menggali kisahnya melalui berbagai dokumen sejarah. Saya “menemui” Bung Karno, berkali-kali saat saya ziarah ke makam Bung Karno di Blitar Jawa Timur. Pertama kali saya ke Makam Bung Karno di Blitar pada tahun 1993. Kini, saya rutin melakukan ziarah spiritual dan sejarah ke makam Bung Karno tanpa merasa bosan. Bung Karno meninggal disaat saya masih balita. Di makam Bung Karno, saya selalu memanjatkan doa menurut agama Khonghucu yang saya imani.

Saya pernah beberapa kali bertemu Gus Dur. Diskusi dengan Gus Dur akan menemukan banyak hal penting selain ilmu pengetahuan, visinya yang luar biasa serta kecintaannya terhadap Republik Indonesia. Tentu saja, guyonan Gus Dur selalu ditunggu karena penuh kejutan dan mencairkan suasana.

Tiba-tiba hari ini, saya ingin menggali lebih dalam kisah dibalik sejarah, saat Bung Karno dan Gus Dur meninggalkan Istana. Saya kembali membaca buku dan menggali berbagai dokumen serta melihat kembali pemberitaan berbagai media massa di kedua masa itu yakni tahun 1967 dan 2001. Maksud dan tujuan saya hanya satu yakni ingin belajar dari kisah hebat kedua orang yang sangat saya kagumi, kenapa mereka harus meninggalkan Istana ?

Menurut saya, ada kemiripan Bung Karno dan Gus Dur dengan Presiden RI saat ini yakni Pak Jokowi dalam banyak hal. Maka, saya memilih untuk mendukungnya baik sejak Pilpres 2014 hingga kini Pilpres 2019, bahkan saya menjadi relawan dan bergabung dengan Relawan Nasional untuk mendukung Pak Jokowi.

Dari berbagai literatur, buku dan dokumentasi peristiwa penting saat Bung Karno dipaksa meninggalkan Istana, banyak perbedaan soal waktu tersebut. Saya terus menggalinya dan menelusuri berbagai dokumen penting. Tidak mungkin pula akan ditemui kisah ini diberbagai buku dan dokumen sejarah resmi rezim orde baru karena kebijakan de-Soekarnoisme. Bahkan buku sejarah resmi orde baru “30 tahun Indonesia Merdeka” tidak ditemui atau sengaja dihilangkan.

Menurut Sidarto Danusubroto (ajudan terakhir Bung Karno dan Ketua MPR RI yang mulai menjabat sejak 8 Juli 2013 hingga 1 Oktober 2014) dalam dialog Kebangsaan di Pendopo Kagama, UGM Jokyakarta pada tanggal 18 April 2013 yang dikutip dalam buku “Memoar Sidarto Danusubroto Ajudan Bung Karno, sisi sejarah yang hilang” karya Asvi Warman Adam (2013), dijelaskan bahwa secara de facto sejak 11 Maret 1966 Kekuasaan sudah beralih dari Bung Karno ke Pak Harto. Secara de jure, penyerahan kekuasan sudah terjadi pada tanggal 22 Februari 1967 di Istana Merdeka. Menurut Sidarto Danusubroto, sampai akhir April 1967 Bung Karno masih tinggal di Istana. Namun, pada awal Mei 1967, dimana ketika Bung Karno kembali dari meninjau proyek-proyek yang diprakarsainya seperti Monas, Gelora Bung Karno dan lain-lain, Bung Karno tiba-tiba tidak diperkenankan masuk Istana dan diultimatum harus segera meninggalkan Istana tanpa punya kesempatan membawa barang-barang milik pribadinya.

Dalam rekaman video yang direkam sejarawan Des Alwi, nampak situasi mengharukan ketika Bung Karno harus dipaksa meninggalkan Istana. Nampak pula Soeharto mendampingi detik-detik saat Bung Karno hendak meninggalkan Istana dan kemudian meninggalkan Bung Karno yang dikelilingi Wartawan.

Beberapa saat sebelumnya, Bung karno menerima surat perintah untuk meninggalkan istana tempat tinggalnya selama 20 tahun terakhir. Wajah Bung Karno terekam sedang berusaha menyembunyikan kesedihan dengan raut muka tetap tersenyum sesaat setelah selesai membaca surat pengusiran tersebut. Bung karno yang hanya mengenakan kaos oblong, kemudian memberikan beberapa dasi kesayangannya kepada wartawan sebagai cindera mata dan perpisahan. Dokumentasi tersebut diambil ketika Bung Karno sedang bersiap meninggalkan istana pada awal bulan Mei  1967.

Bung Karno diberhentikan oleh MPRS yang Ketuanya saat itu Jenderal AH Nasution.

Gus Dur diberhentikan oleh MPR yang diketuai Amien Rais. Bung Karno meninggalkan Istana karena Soeharto telah dilantik sebagai Presiden. Gus Dur harus meninggalkan Istana karena Megawati Soekarno Putri sebagai Wakil Presiden RI dilantik oleh MPR RI sebagai Presiden pada tanggal yang sama yakni 23 Juli 2001.

Sidarto Danusubroto adalah ajudan terakhir Bung Karno yang memberikan kesaksiannya saat Bung Karno dipaksa meninggalkan Istana, dan kemudian sejarah mencatat Pak Sidarto Danusubroto menjabat sebagai Ketua MPR RI sejak tanggal 8 Juli 2013 hingga 1 Oktober 2014. Menantu Bung Karno yakni Dr H Taufiq Kiemas menjabat sebagai ketua MPR RI ke 13 sejak tanggal 1 Oktober 2009 sampai beliau meninggal dunia pada tanggal 8 Juni 2013. Pengganti Dr Taufiq Kiemas sebagai Ketua MPR RI adalah Pak Sidarto Danusubroto sebagai Ketua MPR RI ke 14. Adapun Ketua MPR RI ke-2 dijabat Jenderal AH Nasution yang membuat Bung Karno harus meninggalkan Istana pada awal bulan Mei 1967. Amien Rais menjadi Ketua MPR RI ke-12 (1999-2004) yang membuat Gus Dur harus meninggalkan Istana. Amien Rais menggantikan Harmoko Ketua MPR RI ke-11, loyalis Soeharto namun sebagai Ketua MPR RI justru membuat Pak Harto harus meninggalkan Istana. Pengganti Amien Rais sebagai Ketua MPR RI adalah Dr Taufiq Kiemas menantu Bung Karno. Ada adagium bahwa Sejarah selalu berulang. Apakah anak-anak Gus Dur atau keluarganya suatu saat kelak akan menjadi ketua MPR RI ? Sejarah yang akan membuktikannya …

Soeharto adalah orang dibalik peristiwa Bung Karno harus meninggalkan Istana. Amien Rais yang saat itu Ketua MPR RI adalah orang dibalik Gus Dur harus meninggalkan Istana. Bung Karno dipaksa meninggalkan Istana pada awal bulan Mei tahun 1967. Gus Dur meninggalkan Istana Negara pada tanggal 23 Juli 2001. Bung Karno dan Gus Dur meninggalkan Istana hanya mengenakan Kaos Oblong. Bung Karno mengenalan celana piyama, Gus Dur mengenakan celana pendek.

Ada kemiripan dalam diri Bung Karno dan Gus Dur saat memberikan alasannya ketika meninggalkan Istana yakni tidak mau adanya perang saudara, konflik sesama anak bangsa. Keduanya mempunyai pendukung fanatik yang siap membela mati-matian. Sejarah para pemimpin bangsa ini sangat ironis dan memilukan dan kadang membuat saya tersenyum. Bung Karno harus rela meninggalkan Istana bersama keluarga dan anak-anaknya termasuk Megawati puterinya yang kelak menjadi Presiden dan kembali ke Istana yang ditinggalkan Gus Dur. Bung Karno meninggalkan Istana bersama anak-anaknya termasuk Megawati Soekarno Putri yang kelak menjadi Presiden. Gus Dur meninggalkan Istana didampingi keluarganya dan disampingnya adalah salah satu anaknya Yenny Wahid.

Dalam sejarah Republik Indonesia hanya ada dua Presiden yang mengeluarkan Dekrit Presiden yakni Bung Karno dan Gus Dur. Bung Karno mengeluarkan Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959.  Isi dekrit ini adalah pembubaran Badan Konstituante hasil Pemilu 1955 dan penggantian undang-undang dasar dari UUD Sementara 1950 ke UUD ’45.

Gus Dur mengeluarkan Dekrit Presiden pada tanggal 23 Juli 2001. Isi Dekrit adalah :

(1) Pembubaran MPR/DPR,

(2) Mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun,

(3) Membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR.

‘Jangan sekali-kali meninggalkan Sejarah – Jasmerah” (Bung Karno, 17 Agustus 1966).

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa” (Soekarno, 1967)

“Tidak ada jabatan di dunia ini yang harus dipertahankan mati-matian” (Gus Dur, 2001)

“Tidak penting apa Agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak akan pernah tanya apa Agamamu” (Gus Dur)

Terima kasih Bung Karno,

Terima kasih Gus Dur,

Saya belajar banyak dari kisah ini bahwa tidak ada kekuasaan yang harus dipertahankan mati-matian. Saya belajar tentang kecintaan pada negeri Indonesia yang sangat luar biasa. Saya belajar tentang kesederhanaan. Saya belajar dari kisah sejarah ini bahwa kekuasaan hanyalah sementara, tidak perlu di bangga-banggakan apalagi berjuang mati-matian untuk mempertahankan kekuasaan.

Saya selalu merindukan Bung Karno dan Gus Dur, saya akan selalu belajar dan tidak akan pernah bosan untuk berziarah ke makam Bung Karno dan Gus Dur. Tahun ini saya akan melakukannya lagi …(*)

 

Secangkir kopi menemani catatan ini.

Tanah Minahasa, 2 Maret 2019

 

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here