Kembalikan Desa Tara-Tara sebagai Destinasi Wisata Unggulan Sulawesi Utara

0
309
Kembalikan Desa Tara-Tara sebagai Destinasi Wisata Unggulan Sulawesi Utara
Kembalikan Desa Tara-Tara sebagai Destinasi Wisata Unggulan Sulawesi Utara.(foto:hentjepongoh)

Oleh: H. Alvy Pongoh SE MM

Tiga tahun silam tepatnya pada Hari Minggu tanggal 21 Mei 2017, para Pengurus dan Anggota Pinaesaan ne Kawanua Tara-Tara (ESANUATA) se-wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) pagi hari berkumpul di sekitar Bundaran HI Jakarta Pusat. Dipimpin langsung oleh Ketua nya Pieter Kopero Pongoh, ESANUATA se-Jabodetabek ikut berperan serta dalam acara Promosi Pariwisata bersama Pemerintah Kota Tomohon pada hari itu.

Acara dalam bentuk Pawai Promosi “Tomohon International Flowers Festival (TIFF) 2017” itu dilaksanakan pada event “Jakarta Car Free Day” di Jalan MH Thamrin dan dihadiri oleh Walikota Tomohon Jimmy Feidie Eman SE Ak dan Wakil Walikota Tomohon Syerly Adelyn Sompotan. Ikut serta juga dalam acara ini jajaran pejabat Pemerintah Kota Tomohon termasuk para Camat dan para Lurah.

Rangkaian iring-iringan sebuah mobil berhiaskan berbagai jenis bunga dalam rangka promosi event TIFF 2017 yang dimulai dari Bundaran Hotel Indonesia menuju Kantor Kementerian Pariwisata RI itu diikuti oleh seluruh pejabat Pemerintah Kota Tomohon, Putra dan Putri Tomohon, Komunitas Sulawesi Utara dan Minahasa serta seluruh Warga Tomohon yang sedang merantau dan tinggal di wilayah Jabodetabek, termasuk Keluarga Besar ESANUATA.

Anggota ESANUATA se-Jabodetabek tercatat sekitar 100 Keluarga dengan total sekitar 500 orang. ESANUATA merupakan sebuah Organisasi Perkumpulan bagi orang-orang yang berasal dari Kampung atau Desa atau Wanua Tara-Tara, Tomohon yang sedang bersekolah, bekerja, tinggal dan berdomisili di wilayah Jabodetabek. Rukun Kampung Tara-Tara ini sendiri sudah terbentuk di Jakarta sejak tahun 1968.

Tara-Tara adalah nama sebuah kampung atau desa yang indah permai berlokasi dibawah kaki Gunung Lokon, di wilayah Kota Tomohon. Berdasarkan catatan sejarah bahwa Desa atau Wanua Tara-Tara ini sudah ada sejak tahun 1303. Di masa kolonial Belanda, Desa Tara-Tara yang beriklim pegunungan ini dikenal sebagai penghasil Kopi karena banyaknya perkebunan Kopi.

Alkisah nama Desa Tara-Tara ini berasal dari sejenis rumput-rumputan berbunga yang banyak tumbuh di sekitar rawa-rawa, yang bila diinjak akan berbunyi: “Taz Taz”. Dari asal bunyi rumput di rawa rawa itu, kemudian ditambahkan huruf a dibagian akhir menjadi Taza-Taza dan akhirnya oleh Hukum Tua (Kepala Desa) yang bernama Wilar menyebut nama Desa Tara-Tara.

Riwayat Desa Tara-Tara pada masa Hukum Tua Wellem M Pongoh (1916-1933), statusnya adalah Onder District Tombariri, dengan kantor Hukum Kedua berada di Tara-Tara. Pada masa Hukum Tua Alphius Wenas Pongoh (1933-1946), sejak tahun 1946 Tara-Tara masuk di wilayah District Tomohon yang kemudian hari berkembang menjadi Kecamatan Tomohon di wilayah Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.

Anak laki-laki dari Hukum Tua AW Pongoh yang bernama Jan Herman Marinoya Pongoh sejak tahun 1971 sudah mulai mengundang para wisatawan asing untuk berkunjung ke Desa Tara-Tara. Saat itu JHM Pongoh mengajak warga negara asing yang menjadi Students Missionary di Sekolah Tinggi Klabat (kini bernama Universitas Klabat) untuk datang ke Tara-Tara dan menyaksikan tarian Katrili dan Lansei.

Kembalikan Desa Tara-Tara sebagai Destinasi Wisata Unggulan Sulawesi Utara
H Alvy Pongoh saat menghadiri pagelaran TIFF di Jakarta beberapa waktu lalu.(istimewa)

Mr & Mrs Lundstrum, warga negara Swedia pada sekitar tahun 1972 dengan didampingi oleh JHM Pongoh berkunjung ke Tara-Tara untuk melihat keindahan pemandangan alam. Selain itu juga untuk menyaksikan penampilan tarian Katrili, Maengket dan Kawasaran. Mereka juga mengunjungi jurang Tamu’pu yang ada di perbatasan Desa Tara-Tara dengan hutan Tincep.

Alo Runtuwene dan JHM Pongoh mulai tahun 1973 bersama-sama berkolaborasi untuk menjadikan Tara-Tara sebagai Desa Pariwisata dan didukung oleh Hukum Tua serta warga desa Tara-Tara. Usaha dari kedua anak Desa Tara-Tara itu pun didukung oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Gubernur Sulawesi Utara. Akhirnya pada tahun 1974 Direktur Jenderal Pariwisata dari Jakarta datang berkunjung ke Tara-Tara dan menetapkan Tara-Tara sebagai Desa Pariwisata.

Jadilah sejak tahun 1974 hingga tahun 1995an Desa Tara-Tara termasuk sebagai Destinasi Wisata Unggulan dari Kabupaten Minahasa dan Provinsi Sulawesi Utara. Dimana dalam berbagai “Tourist Guide Book” nama Desa Tara-Tara dijelaskan sebagai “Pusat Seni dan Budaya Minahasa” dimana para wisatawan dapat melihat pertunjukan tarian tradisional Minahasa di ruang terbuka dengan pemandangan Gunung Lokon, Gunung Kasehe dan Gunung Tatawiran.

Untuk mengetahui penjelasan tentang Tara-Tara sebagai destinasi wisata, para wisatawan nusantara dan mancanegara membacanya lewat “tourist guide book” dan situs web pariwisata nasional dan Internasional. Saat ini masih ada beberapa situs web pariwisata yang memasukkan Tara-Tara dalam daftar destinasi wisata antara lain: indonesiantravelbook.com , indahnesia.com , etm.pdx.edu , dan indonesiatouristinformation.com .

Laman situs-situs web pariwisata itu masih menampilkan tulisan: “Tara-Tara, 15 kilometers further southwest from Tasik Ria, this village has traditionally been the center of Minahasa culture and arts. Traditional dances enthrall visitors at Kemer Garden. There are World War II at Japanese caves at the Ranowangko Dam, and the Kemer natural bathing spot nearby in the shadow of volcano Lokon, Mount Kasehe and Mount Tatawiran. Tara-Tara is easily reachable from Manado by public bus or taxi”.

Akhirnya secara “de jure” dan “de facto” hari ini ternyata nama Tara-Tara sebagai destinasi wisata di Kota Tomohon pun telah hilang atau dihilangkan dalam “tourist guide book” Kota Tomohon dan digantikan destinasi wisata lainnya. Kenyataan ini harusnya bisa membuka mata, telinga, pikiran dan hati dari seluruh warga dan orang Tara-Tara bahwa kejayaan pariwisata di Desa atau Wanua Tara-Tara telah menurun bahkan menuju hilang.

Harusnya seluruh elemen masyarakat Tara-Tara, baik yang berada di kampung ataupun di perantauan (di dalam dan luar negeri) bisa bersatu padu untuk mengembalikan kejayaan pariwisata Tara-Tara yang pernah terjadi di masa lalu. Dengan usaha yang sungguh-sunguh, kerjasama dan kolaborasi dari semua pihak untuk menggerakkan dan menghidupkan kembali seni budaya tradisional khas Minahasa maka nama Tara-Tara akan kembali dikenal oleh dunia pariwisata sebagai Pusat Seni dan Budaya Minahasa dan tentunya Kota Tomohon sebagai landasan pijak keberadaan Desa Tara-Tara Semoga !!!.(*)

Penulis adalah salah seorang Cucu dari Alphius Wenas Pongoh, Hukum Tua Tara-Tara (1933-1946) dan selaku Sekretaris ESANUATA se-Jabodetabek.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here