KEBAIKAN HATI Renungan Kisah Para Rasul 17 :10-15

0
1780

Oleh : Pdt. Aswin Polii

Kebaikan hati merupakan salah satu sifat yang tidak hanya ada dalam hati tetapi sesuatu yang harus nampak dalam perilaku setiap orang. Harapan dan kerinduan dari kebaikan hati adalah terciptanya dunia tempat tinggal kita yang dapat merasakan keadaan nyaman dan damai, di dalamnya ada rasa kepedulian satu dengan yang lain, membantu dan menolong, saling menguatkan dan melindungi, dan dalam keadaan apapun memerlukan sebuah pengorbanan yang didasari pada ketulusan hati.

Tantangan kekinian adalah bagaimana memberlakukan kebaikan hati di tengah-tengah kehidupan yang semakin melekat dengan; kepentingan diri pribadi, keinginan untuk terus menciptakan permusuhan, niat untuk terus melakukan kejahatan, perbedaan yang berujung pada perselisihan yang tiada ujungnya, menjatuhkan orang lain walaupun dia hidup dalam kebenaran, membuat orang lain terhukum karena ketidaksukaan, menghasut banyak orang hanya karena kecemburuan dan iri hati, dan mengangkat isu perbedaan ajaran dan pandangan sebagai isu yang sering berujung pada pengancaman dan permusuhan.

Bacaan dalam kisah 17:10-15 tidak lepas dari ayat-ayat sebelumnya. Paulus dan Silas tiba di Berea dilatarbelakangi oleh adanya peristiwa penghasutan dan gerakan provokatif dari sebagian besar orang yahudi di Tesalonika yang iri hati (Ps.17:5) dengan pemberitaan Injil yang disebarkan oleh Paulus dan Silas di Rumah Ibadah Yahudi yang ada di Tesalonika (ay.2). Dalam pemberitaannya, Paulus menjelaskan dengan rinci bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati. Akibat pemberitaan tersebut, banyak orang yang tergerak hati dan menjadi percaya baik dari kalangan Yunani dan juga perempuan-perempuan terkemuka. Selain dari pada itu, pihak-pihak sebagian besar yahudi yang tidak menerima berita itu, menjadi iri hati, mulai menghasut dan mengajak beberapa penjahat atau “preman-preman” untuk menangkap Paulus dan Silas di rumah Yason. Oleh kekerabatan dan kebaikan hati Yason, mereka melindungi Paulus dan Silas sehingga dapat lari ke Berea yang letaknya kurang lebih 50 mil di sebelah barat Tesalonika.

Di Berea, perbedaan mencolok sangat dirasakan oleh Paulus karena orang-orang Yahudi yang duduk mendengar pengajaran Paulus di Rumah Ibadah berbeda dengan orang-orang Yahudi di Tesalonika. Di Berea, orang-orang Yahudi memiliki hati yang baik, dan justru menerima Firman itu dengan segala kerelaan hati, mereka mejadi percaya, dan setiap hari menyelidiki Kitab Suci untuk mencari tahu benar atau tidaknya pemberitaan Paulus (ay. 11-12).

Tidak hanya orang Yahudi, tetapi juga Yunani dan perempuan-perempuan terkemuka. Yahudi Tesalonika yang mendengar pemberitaan Paulus diterima baik oleh orang-orang Berea, mereka datang ke Berea dan menghasut orang-orang di Berea. Mereka juga menghindarkan Paulus melalui jalur pantai, tetapi Silas dan Timotius masih tetap tinggal dan pada waktunya Silas dan Timotius disuruh mnyusul Paulus di Atena (ay.14). Saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus.

Keterbukaan dan sikap mau menerima pengajaran bahkan bagaimana menanggapinya adalah kedewasaan orang-orang yang ada di Berea. Mereka tidak menolak dan kalaupun tidak menerimanya mereka justru tidak melalukan penghasutan dan memprovokasi banyak orang untuk melakukan tindakan kejahatan kepada Paulus dan para pengikutnya. Mereka lebih berpikiran luas, mereka bersedia untuk mendengar dan bahkan mau menyelidiki kebenaran pemberitaan Paulus melalui Kitab Suci, walapun pada awalnya mungkin tidak seperti pandangan dan pemahaman atau ajaran mereka.

Sikap keterbukaan dan mau dibaharui, dan mau menyelidiki kebenaran adalah contoh bagaimana kita yang hidup dengan beragam perbedaan dan pandangan untuk terus mengedepankan kebaikan hati dan keterbukaan dalam menyikapi hal-hal yang baru. Mereka tidak ada niat jahat, tidak ada rasa iri hati karena kewibawaan Paulus dan kawan-kawannya, mereka tidak ada sikap untuk menghakimi sebagaimana sikap yang ada pada yahudi Tesalonika. Tidak ada penghasutan dan memprovokasi ke arah kekacauan. Dan orang-orang di Berea adalah orang-orang yang menempatakan kebenaran sebagai hal penting sehingga mereka tidak mudah di hasut dan dibodohi.

Firman yang disampaikan kepada mereka membuat mereka mau dibaharui dan hidup dalam kebaikan hati. Sehingga ketika datang ancaman dari luar Paulus segera dihindarkan dan dijauhkan dari kejaran orang Yahudi Tesalonika. Hidup dalam kebenaran Iman adalah orang yang memiliki prinsip hidup yang kokoh dan teguh, tidak dapat dibodohi dan dirasuki oleh niat jahat apalagi berkomplotan melakukan kejahatan. Mereka tidak ada niat untuk mengacaukan tetapi berupaya untuk tetap hidup rukun dan damai dalam perbedaan. Orang yang mudah dibodohi dan dihasut adalah orang-orang yang tidak memiliki pegangan hidup, mereka cepat dipengaruhi dan tidak memiliki tujuan hidup.

Tidak memiliki tujuan hidup karena tidak ada pegangan yang kuat sehingga lekas terpengaruh. Dunia sekarang ini membutuhkan pegangan yang kuat, iman kita adalah iman yang kokoh dan teguh karena kita rajin belajar Firman dan menemukan kebenaran oleh karena kita mau hidup dalam kebenaran.

Tetapi adalah sebuah kebodohan apabila kita hidup dalam pengaruh kejahatan apalagi hidup tanpa pegangan iman. Banyak orang memanfaatkan segala kekurangan dan keterbatasan orang lain dan memperdayai dengan hasutan, dan kita musti lebih peka dengan hasutan karena tanpa disadari kita sementara diperdayai oleh hasutan.

Oleh karena itu, marilah kita hidup dalam kebaikan hati, karena oleh kebaikan hati kita akan menjadi orang yang kuat dan kokoh dan tidak mudah dihasut oleh kejahatan. Oleh kebaikan hati kita akan melihat kebenaran dan di dalamnya kita akan semakin menyadari arti hidup bersama dalam perbedaan. Kebaikan hati kita adalah kedamaian dalam perbedaan.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini