SALING MENGASIHI SEBAGAI TANDA HIDUP BARU

0
138
Pdt. ‎Chrystshinov Mawitjere
Pdt. Chrystshinov Mawitjere

Renungan Mingguan, 1 Yohanes 3:11-18

Oleh: Pdt. Chrystshinov Mawitjere

Teks bacaan kita ini berisi nasihat Rasul Yohanes kepada orang-orang percaya tentang pentingnya hidup saling mengasihi.

Pada ayat 11 Rasul Yohanes mengingatkan kembali tentang perintah untuk saling mengasihi seperti yang telah didengar sejak mulanya. Ayat 11 mengatakan: “Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi.” Di sini Yohanes sebenarnya sedang merujuk pada perintah Tuhan Yesus sebagaimana yang tertulis dalam Injil Yohanes 13:34-35. Mari kita buka dan membacanya secara bersama dengan kedengaran. Dua…tiga… “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

Bila Rasul Yohanes mengangkat kembali nasihat Tuhan Yesus agar murid-murid-Nya, orang-orang percaya, jemaat-Nya untuk saling mengasihi, itu berarti nasihat itu memiliki urgensi terhadap orang-orang percaya yang menjadi tujuan nasihat Yohanes saat itu. Itu menunjukkan bahwa praktek hidup yang tidak saling mengasihi sangat nampak dalam komunitas Kristen saat itu. Wujudnya dapat berupa perselisihan, perkelahian, bahkan saling membunuh sehingga Yohanes perlu mengangkat contoh tentang Kain yang membunuh adiknya pada ayat 12. Wujud lainnya juga ialah hidup yang saling membenci. Entah karena masalah apa sehingga ada orang-orang atau kelompok-kelompok yang saling membenci satu sama lain dalam komunitas Kristen saat itu seperti yang tergambar pada ayat 15. Wujud lainnya lagi ialah adanya orang-orang Kristen yang hidup berkelebihan secara materi tetapi tidak memiliki kesediaan hati untuk memberi bantuan kepada orang-orang Kristen yang berkekurangan seperti yang tergambar pada ayat 17.

Jemaat yang dikasihi Tuhan.

Sesungguhnya nasihat untuk saling mengasihi masih merupakan nasihat yang memiliki urgensi (nilai kepentingan) untuk jemaat dan komunitas Kristen di sepanjang zaman, termasuk kita sekarang. Bukankah Fenomena perselisihan, permusuhan, iri hati, fitnah, penipuan, saling benci, saling dendam dan bahkan pembunuhan masih terjadi di kalangan umat Kristiani? Tidak jarang pertikaian orang-orang Kristen menjadi tontonan dunia luar, yang merusak citra kekristenan di mata banyak orang non Kristen. Baru-baru ini kita dihebohkan dengan berita tentang seorang pria yang telah memperkosa ratusan pria lainnya di Inggris. Siapa pelakunya? Orang Kristen. Siapa korban-korbannya? Juga orang Kristen, bahkan dikabarkan mereka rajin beribadah. Kita juga dapat menyebutkan contoh-contoh tentang pertikaian yang terjadi dalam gereja yang dapat kita sebutkan tentunya. Karena itu sekali lagi, nasihat untuk hidup saling mengasihi merupakan nasihat yang memiliki urgensi bagi kita sampai kini. Amin?

Bagi Rasul Yohanes, tidak heran kalau dunia tidak suka, bahkan benci orang Kristen seperti yang dikatakannya pada ayat 13. Mengapa? Karena pertikaian dan permusuhan yang kerap terjadi dalam komunitas Kristen.

Tentu kalau setiap orang Kristen hidup saling mengasihi satu dengan yang lain, pasti persekutuannya, komunitasnya akan memancarkan keindahan dan kemuliaan Allah sehingga dunia akan menyukai kekristenan. Tapi bila yang dipertontonkan hanyalah pertikaian dan permusuhan, tidak heran kalau dunia tidak tertarik pada kekristenan.

Akan tetapi urgensitas (pentingnya) nasihat untuk saling mengasii sesungguhnya bukan hanya berkaitan degan citra kekristenan di mata dunia. Ada alasan yang lebih penting lagi dari itu. Apa itu? Yaitu karena kasih merupakan tanda atau bukti hidup baru.

Apa itu hidup baru? Hidup baru adalah hidup yang terlepas dari dosa dan kuasa maut setelah seseorang secara pribadi menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya. Dengan demikian hidup lama adalah hidup yang terikat dengan kuasa dosa dan maut karena belum menerima secara pribadi Tuhan Yesus dalam hidupnya. Hidup baru adalah hidup yang terbebas dari dosa dan maut sedangkan hidup lama adalah hidup yang berjalan dalam dosa dan maut. Hidup baru adalah hidup yang bertumbuh dalam Kristus dan Firman-Nya sedangkan hidup lama adalah hidup yang berkanjang dalam dosa.

Apakah bukti hidup baru menurut Alkitab? Sudah dibaptis? Sudah diteguhkan sidi? Menjadi anggota gereja? Bukan! Menurut Alkitab, bukti atau tanda dari hidup baru ialah ketika kita mengasihi saudara kita.

Ayat 14 dari teks bacaan kita tadi berkata: “Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup , yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barang siapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.”

Ketika Rasul Yohanes berbicara tentang maut di sini, ia tidak berbicara tentang kematian fisik tetapi kematian secara rohani, yaitu terpisahnya roh manusia dari Allah. Karena itu ayat 14 tersebut dapat kita baca begini: kita tahu, bahwa kita telah berpindah dari kematian rohani sebagai akibat dari dosa, kepada kehidupan kekal karena kita mewujudkan kehidupan yang mengasihi saudara-saudara seiman bahkan mengasihi semua orang.

Ketika seseorang mati secara jasmani, dia terpisah dengan kehidupan. Ketika seseorang mati secara rohani, dia terpisah dengan Allah sumber kehidupan. Itulah maut.

Ketika seseorang lahir secara jasmani maka ia hidup secara jasmani dan membawa sifat-sifat dari orang tuanya. Tetapi ketika seseorang dilahirkan kembali secara rohani, seseorang dilahirkan dari Roh Allah dan kemudian membawa sifat-sifat Allah dalam hidupnya. Itulah hidup baru. Salah satu sifat Allah ialah: KASIH. Karena itu orang Kristen yang sudah mengalami hidup baru adalah orang yang mengasihi orang lain. Amin? Kalau ada orang Kristen yang praktek hidupnya tidak ada kasih, itu berarti kalimat terakhir ayat 14 masih berlaku baginya yaitu apa? “Ia tetap di dalam maut”. Dengan kata lain belum hidup baru, belum menerima Yesus, belum diselamatkan.

Maka, ada dua pertanyaan yang penting untuk direnungkan. Pertama, Sudahkah saudara menjadi orang Kristen yang hidup baru? Kalau saudara katakan ya, saya adalah orang Kristen yang sudah hidup baru, maka pertanyaan kedua ialah apakah saudara mengasihi orang-orang yang lain?

Jemaat yang dikasihi Tuhan. 

Hidup baru dan mengasihi sesama adalah dua domain yang sangat penting. Mengapa? Karena hidup baru berarti hidup dalam Kristus, hidup yang sudah diselamatkan, dan kasih terhadap sesama adalah bukti, tanda, bahwa kita sudah mengalami hidup baru. Kalau kita tidak mengasihi orang-orang lain, berarti kita masih berada dalam hidup lama, yaitu hidup dalam dosa dan maut.

Jemaat yang dikasihi Tuhan. 

Hidup baru adalah hidup yang terhubung dengan Allah dan dituntun oleh Roh Allah. Ketika kita mengalami hidup baru kasih Allah dicurahkan ke dalam hati kita sehingga hidup kita akan penuh dan berlimpah dengan kasih. Kasih Allah yang ada di dalam hati kita dapat mengubah dan membaharui hati yang paling keras sekalipun sehingga makin hari hati kita, pikiran kita dan pola hidup kita makin menjadi sesuai dengan Firman Allah.

Ketika kasih Allah mengalir dalam hidup kita maka kita pun akan terbentuk menjadi orang-orang yang berlimpah kasih dan dapat mewujudkan kehidupan yang saling mengasihi satu dengan yang lain, tentu pertama-tama di dalam kumunitas iman kita, tetapi juga dengan semua orang sekalupun berbeda komunitas dan kepercayaan.

Yohanes mengingatkan, mengasihi itu bukan kata-kata semata tetapi tindakan (ay.18). Kita dapat belajar mengasihi seperti Yesus (ayat 16). Bagaimanakah kasih Kristus itu? Dapat kita simpulkan pada 2 kata, yaitu: MEMBERI DAN RELA BERKORBAN.

Mengasihi berarti memberi dan berkorban. Memberi waktu, memberi perhatian, memberi bantuan, memberi teguran, memberi nasihat guna kebaikan dari orang-orang lain. Dan untuk memberi memang dibutuhkan kerelaan untuk berkorban. Tanpa rela berkorban, sulit bagi kita untuk memberi, dan tanpa memberi kita tidak pernah mengasihi. Karena itu, sebagaimana nasihat Rasul Yohanes yang mengacu dari nasihat Tuhan Yesus sendiri, marilah kita hidup saling mengasihi satu dengan yang lain, Amin.

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here