“Bertobat dan Hidup Baru dalam Tuhan”

0
253

Pdt. Brando Vallentino Kondoj
Kisah Para Rasul 9:1-19a
“Bertobat dan Hidup Baru dalam Tuhan”

by. Pdt. Brando Vallentino Kondoj

(Pendeta Pelayanan di Jemaat GMIM Efrata Tandengan, Wilayah Langowan Empat.)

Saudara-saudara, apakah hidup Kristen itu? Martin Luther membuka uraian 95 dalilnya dengan menegaskan satu hal, yakni bahwa seluruh hidup orang percaya adalah pertobatan dari awal sampai akhir. Apa yang ditegaskan oleh Luther tersebut memberikan jawaban atas pertanyaan di atas: hidup Kristen adalah pertobatan dari awal sampai akhir. Hal ini sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Tuhan Yesus sendiri sejak Ia memulai pelayanan-Nya, yakni “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat. 4:17). Kisah Saulus dan pertobatannya yang terkenal ini menunjukkan dua hal kepada kita berkaitan dengan panggilan setiap orang percaya untuk hidup di dalam pertobatan. Pertama, pertobatan terjadi karena kasih karunia Allah yang besar terhadap orang berdosa. Kedua, pertobatan berarti mengalami perubahan secara radikal dari keadaan yang semula kepada keadaan yang baru sama sekali. Dua hal ini menjadi penekanan dalam perenungan ini, sekaligus penegasan bahwa setiap orang percaya seharusnya mengalami dua hal tersebut dalam hidupnya.

Pasal 9 dari kitab Kisah Para Rasul sesungguhnya bukanlah awal dari kemunculan Saulus. Saulus telah diperkenalkan sebelumnya pada pasal 7 sebagai seseorang yang hadir pada saat Stefanus dibunuh, yang kepadanya para saksi meletakkan jubah mereka ketika mereka melempari Stefanus dengan batu sampai mati. Kematian Stefanus adalah awal dari penganiayaan yang hebat terhadap orang percaya dan Saulus turut serta di dalamnya. Pasal 8:3 menegaskan siapa Saulus dan apa yang dilakukannya terhadap orang percaya, “Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.” Tidak heran pasal 9:1 dibuka dengan pernyataan yang menegaskan hal yang sama, yakni bahwa hati Saulus berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Penganiayaan tersebut dimulai di Yerusalem dan telah membuat orang percaya tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria (8:1).

Itulah sebabnya Saulus kemudian menghadap Imam Besar yang kemungkinan besar masih dijabat oleh Kayafas dan meminta surat kuasa dalam melaksanakan tugasnya. Surat tersebut adalah semacam surat pengantar dari Sanhedrin untuk diberikan kepada sinagoge-sinagoge dalam rangka mendukung agenda menangkap orang-orang percaya. Saulus kemudian mengarahkan agendanya tersebut ke sebuah kota yang disebut Damsyik, di mana sekelompok orang Yahudi yang mengikuti Jalan Tuhan berada. Orang-orang inilah yang dipandang Saulus sebagai orang-orang yang menyangkali Syema Israel, inti dari iman Israel, yakni “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Ul. 6:4). Orang-orang ini menyembah seorang bernama Yesus sebagai Tuhan, yang diyakini telah bangkit dari kematian, dan karenanya mereka harus ditangkap dan diadili di Yerusalem. Jauh sesudah itu, dalam penjelasannya di hadapan Agripa tentang kisah pertobatannya, Saulus, yang juga disebut Paulus (13:9) menguraikan tugasnya kala itu, “Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing” (26:10-11). Dalam perjalanannya ke Damsyik, Saulus yang begitu kejam terhadap orang percaya ini akan mengalami sesuatu yang tidak pernah disangkanya. Pengalaman tersebut akan memutarbalikkan hidupnya sama sekali dari Saulus yang lama menjadi Saulus yang baru.
Dalam perjalanannya ke Damsyik, Saulus menyaksikan cahaya yang tiba-tiba memancar dari langit mengelilingi dia dan membuatnya rebah ke tanah. Cahaya tersebut pastilah begitu terangnya sebab kejadian tersebut terjadi pada tengah hari bolong (22:6; 26:13). Dalam Perjanjian Lama, cahaya selalu melambangkan penyataan ilahi dan Saulus mengalaminya. Dari cahaya tersebut terdengarlah suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Sampai di sini, terdapat hal yang perlu diklarifikasi. Kisah Saulus dan pertobatannya adalah kisah yang sangat familiar di telinga orang Kristen, namun demikian terdapat banyak salah sangka terhadap Saulus. Saulus memang bertindak kejam, namun Saulus bukanlah semacam pembunuh bayaran atau preman kejam yang pekerjaan sehari-harinya adalah menyiksa dan membunuh orang. Kita perlu sadar bahwa Saulus adalah seseorang yang begitu taat dalam menghidupi agama Yahudi yang dianutnya. Ia sendiri menjelaskan hal tersebut, “Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat” (Filipi 3:4-6). Saulus adalah orang yang sangat taat dalam menghidupi hukum Taurat, bahkan penganiayaan yang dilakukannya pun dipandang sebagai bagian dari menegakkan hukum Taurat itu sendiri. Bila dapat dibahasakan dengan cara yang lain dan sederhana, Saulus sesungguhnya memandang bahwa seluruh hidupnya yang dulu adalah baktinya untuk Tuhan dan hukum Taurat. Namun pengalamannya di jalan ke Damsyik tersebut meruntuhkan seluruh klaim atas hidupnya yang dulu. Atas pertanyaan yang muncul dari cahaya tersebut, Saulus berkata, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Lalu terdengarlah jawaban, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.”

Dalam dialog singkat tersebut nyatalah dua hal. Pertama, seluruh bangunan hidup Saulus yang dianggapnya sebagai bakti kepada Tuhan ternyata berbanding terbalik. Semua yang dilakukan Saulus bukanlah tindakan melayani Tuhan, tetapi justru tindakan menganiaya Tuhan sendiri. Saulus dikonfrontasi sendiri oleh pribadi yang disapanya sebagai “Tuhan,” “Kyrios.” Dunia Saulus diputarbalikkan. Kapankah aku menganiaya Engkau, Tuhan? Bukankah semua yang aku lakukan selama ini adalah untuk membela kehormatan-Mu? Tuhan Yesus yang menyatakan diri kepada Saulus tersebut menegaskan bahwa penganiayaan yang dilakukan Saulus terhadap orang percaya adalah sama dengan menganiaya Tuhan sendiri. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan murid-murid-Nya. Menganiaya mereka berarti menganiaya Dia juga (bnd. Luk. 10:16). Kedua, Saulus mengalami perjumpaan langsung dengan Yesus Kristus yang bangkit itu. Dalam agenda penganiayaan yang dilakukannya, Saulus berusaha membinasakan orang-orang yang diyakininya telah menyangkal iman Israel yang sejati dengan menyembah seseorang yang mati sebagai Tuhan, namun perjumpaan dengan Dia yang mati dan bangkit itu meruntuhkan semua keyakinan Saulus yang dulu. Yesus benar-benar bangkit dan hidup! Di dalam hidupnya yang baru nantinya, berita inilah yang terus diberitakan oleh Saulus: Yesus bangkit dan pada-Nyalah harapan Mesianis itu digenapi! Perubahan radikal telah dimulai dalam diri Saulus. Pengalaman ilahi Saulus melihat cahaya yang megah dan mendengar Yesus sendiri berbicara kepadanya secara langsung membuat Saulus tidak dapat melihat apa-apa dengan matanya selama tiga hari lamanya, namun hal itu justru menuntun Saulus pada iman yang benar, yang dahulu hendak dibinasakannya.

Melalui Ananias, seorang murid Tuhan di Damsyik, Tuhan menyatakan maksud dan rencana-Nya kepada Saulus. Ananias pada awalnya enggan bertemu dengan Saulus yang kejahatannya terhadap orang-orang percaya di Yerusalem telah sampai ke telinga Ananias. Tetapi Tuhan meneguhkan Ananias dengan firman-Nya bahwa Saulus adalah alat bagi-Nya. Ananiaslah yang menumpangkan tangannya atas Saulus dan membuat selaput gugur dari mata Saulus sehingga ia dapat melihat. Saulus kemudian dibaptisnya. Tuhan menyatakan rencana-Nya atas Saulus bahwa Saulus akan memberitakan nama-Nya kepada bangsa-bangsa lain dan dalam pelayanannya itu Saulus akan mengalami penderitaan oleh karena nama Tuhan.

Saudara-saudara, perubahan besar dan radikal terjadi dalam diri Saulus. Pertobatannya begitu nyata, sebab Saulus tidak lagi hidup sebagaimana hidupnya sebelum mengenal Tuhan Yesus. Saulus yang sebelumnya menganiaya kini menjadi Saulus yang akan menderita penganiayaan demi nama Yesus. Berita tentang Yesus yang berusaha dibinasakannya, kini menjadi berita yang dikumandangkannya sampai akhir hidupnya. Bukankah hal yang sama harus berlaku atas hidup kita juga? Kita mungkin tidak mengalami apa yang dialami Saulus, yakni pengalaman spektakuler bertemu dengan Tuhan Yesus sendiri sewaktu di perjalanan ke Damsyik, namun kita dapat mengerti dan mengalami kasih Tuhan pada diri kita melalui firman-Nya. Alkitab berulang kali menegaskan betapa kita berdosa, namun kasih Allah merangkul kita agar kembali kepada-Nya. Paulus membahasakan kasih Allah yang besar itu dalam surat Roma yang ditulisnya, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8). Kepada kita Allah menyatakan kasih-Nya yang besar itu melalui Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, yang telah mati dan bangkit mengalahkan dosa-dosa kita. Sudah seharusnyalah hidup kita menyatakan buah pertobatan dari awal sampai akhir, dan bukannya hidup dalam dosa lagi. Apa yang dialami Saulus adalah pekerjaan Allah yang berkenan menyatakan belas kasihan-Nya kepada orang berdosa, di dalamnya kepada kita juga. Maukah kita merespons kasih-Nya yang besar itu? Amin.

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here