Markus 14 : 32 – 42

Pdt. Christian .I.Y. Ransoen.STh., Ketua BPMJ Jemaat GMIM SILOAM Mawali Kecil Lembe Wilayah Bitung Empat.

Dibiarkan  Bergumul Sendiri

by Pdt. Christian .I.Y. Ransoen.STh., Ketua BPMJ Jemaat GMIM SILOAM Mawali Kecil Lembe Wilayah Bitung Empat.

Mungkin anda pernah merasakan ketika menghadapi pergumulan yang besar, akan dipecat dari pekerjaan, rumah tangga di ambang perceraian, penyakit yang diderita, akan diberhentikan dari kuliah, namun pada saat  membutuhkan bantuan atau dukungan dari orang–orang terdekat, suami, istri, orang tua, kakak, adik bahkan sahabat anda, mereka hanya sibuk dengan urusan mereka tanpa mempedulikan kehadiranmu.  Di saat itulah anda merasakan bahwa anda menghadapi pergumulan seorang diri walaupun berada ditengah-tengah orang terdekat. Saya mau katakan bahwa perasaan yang dirasakan saat menghadapi pergumulan seorang diri di tengah-tengah orang-orang yang terdekat,  itu juga telah di alami oleh Yesus Tuhan pada saat Dia bergumul untuk keselamatan saya dan saudara serta seluruh umat manusia ketika  berada di taman Getsemani.

Catatan dalam Injil Markus 14 : 32 – 42, menggambarkan sikap dari murid-murid Yesus yang membiarkan Dia bergumul sendiri. Sikap itu adalah tanda ketidakpekaan murid– murid-Nya ( Petrus, Yakobus dan Yohanes ) terhadap pernyataan Yesus  “HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya”,  pernyataan Yesus ini seharusnya menimbulkan respon peduli terhadap guru mereka, paling tidak Petrus sebagai murid yang paling agresif akan bertanya kepada Yesus  “Guru apa yang sedang Engkau rasakan atau apa yang sedang Engkau alami saat ini?“ Sebuah pertanyaan yang  menunjukkan rasa simpati dan empati dari orang–orang yang begitu dekat dengan Yesus namun pada kenyataannya tidak demikian yang didapati oleh Yesus.

Sikap yang membiarkan Yesus bergumul sendiri nampak juga dalam Markus 14:38 “Berjaga–jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut,  tetapi  daging lemah”.   Ayat ini merupakan teguran sekaligus permohonan Yesus yang disampaikan setelah menegur Simon dan kedua temannya yang tertidur ( ayat 37 ). Namun setelah Yesus selesai berdoa dan kembali pada murid–muridNya, merekapun didapati Yesus sedang tertidur, bahkan lebih terlelap dari sebelumnya ( ayat 40 ). Terlelapnya murid–murid Yesus adalah bukti bahwa mereka sama sekali tidak terbeban bersama Yesus untuk  menggumuli pergumulan–Nya.

Sikap yang ditampilkan Petrus, Yakobus dan Yohanes, mungkin juga tidak dapat kita salahkan. Mengapa? Karena mereka adalah gambaran dari kelemahan, keterbatasan dan ketidakmampuan seorang manusia.

Saya mau katakan saat ini. Mungkin saya dan anda sekalian pernah dan bahkan sering bersikap seperti Petrus, Yakobus serta Yohanes yang tidak memiliki kepekaan dan ketidakpedulian akan suara Yesus dan juga kita sering tertidur lelap akibat kelelahan dalam mengejar harapan dan mimpi–mimpi demi meraih kesuksesan.

Suatu hal yang sangat memprihatinkan bagi umat Kristen di daerah kita adalah masih banyaknya kasus perceraian: Manado di akhir tahun 2018: 1706 kasus, Minut Tahun 2015: 126 kasus, Minsel  tahun 2018: 70 kasus, Mitra tahun 2019: 40 kasus, Pengadilan Tondano tahun 2013: 20 kasus. Faktor–faktor yang menonjol terjadinya perceraian: pernikahan dini, hadirnya orang ketiga, media sosial, kekerasan dalam rumah tangga, dan tidak adanya komunikasi yang baik antara suami istri serta kurangnya pemahaman iman tentang arti berkeluarga.

Juga munculnya virus korona atau Covid-19 yang mewabah, secara langsung telah mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia  pada umumnya dan juga di daerah nyiur melambai pada khususnya yang mengakibatkan kerugian dari  perusahaan – perusahaan yang dapat mempengaruhi  kelangsungan usaha dan yang sangat dikuatirkan  oleh para pekerja akan terjadi pemutusan hubungan kerja, tidak dapat kita pungkiri begitu banyak warga gereja yang kuatir terkena PHK, dan inilah realita yang membuat warga geraja mengalami tekanan yang sangat berat untuk menjalani dan memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Penyakit merupakan salah satu penyebab pergumulan yang sangat menekan batin seseorang terlebih lagi yang lama dan sulit untuk  disembuhkan. Sering kali kita mendengar ungkapan “Tuhan kapan saya sembuh, Tuhan kenapa Engkau membiarkan aku.” sambil meneteskan air mata. Banyak orang sekarang semakin parah penyakitnya bukan karena obatnya kurang mujarab tetapi lebih sering  diakibatkan pikiran dan batin mereka.

Sebagai anak muda pun tidak bebas dari pergumulan–pergumulan berat yang membuat batin dan pikiran kita semakin kacau, orang tua bercerai, jatuh ke dalam pergaulan bebas, seks bebas, obat–obatan terlarang, kecanduan game, tawuran, ditambah lagi sebagai anak muda sering disodorkan contoh yang tidak baik dari orang tua  dan masyarakat di mana kita tinggal.

Semua pergumulan–pergumulan ini di alami dan dihadapi sendiri oleh sebagian besar warga gereja tanpa ada pendampingan, baik dari keluarga, sahabat terdekat dan juga dari para pelayan. Keluarga dan sahabat kita semua sibuk dengan urusan mereka sendiri, demikian juga para pelayan kita yang sibuk untuk mendampingi para pejabat pemerintah, sibuk membuat proposal pembangunan dan saat ini juga banyak yang sibuk untuk pilkada.

Sekarang bukan saatnya untuk menyalahkan suami, istri, orang tua, sahabat-sahabat dan para pelayan kita karena memang mereka semua tidak akan mampu memberikan jalan keluar yang baik dan sempurna karena keterbatasan sebagai manusia, sekarang ini waktunya pikiran dan hati tertuju kepada Yesus Kristus. Mari kita belajar bagaimana Yesus Kristus menjalani dan melewati pergumulan–Nya di taman Getsemani. Saya mau katakan kepada anda sekalian berdasarkan Firman Tuhan yang kita renungkan bagaimana Yesus Kristus dapat menjalani dan melewati sendiri  pergumulan di taman Getsemani, ternyata Yesus Kristus hanya melakukan hal yang sederhana tetapi memiliki kekuatan yang sangat amat besar yang seringkali saya dan anda mengabaikannya yakni BERDOA.

Bagi Yesus Kristus berdoa merupakan satu hal yang harus Dia lakukan. Dalam catatan beberapa Injil menjelaskan Yesus Kristus selalu berdoa di tempat–tempat sunyi dan seorang diri sekalipun Dia bersama dengan murid–muridNya. Mari kita lihat dalam:

Matius 14 : 23:  “ Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ “

Markus 1 : 35: “ Pagi – pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana “

Markus 6 : 46: “  Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. “

Lukas 6 : 12: “ Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam–malaman Ia berdoa kepada Allah “

Dari catatan Injil–Injil ini membuka wawasan kita bahwa benar-benar DOA  adalah kekuatan Yesus Kristus dalam kemanusiaan-Nya. Dalam peristiwa taman Getsemani Yesus Kristus menjadikan DOA itu sebagai :

  1. Pemersatu dengan Bapa-Nya di sorga.

Sikap Yesus Kristus ketika berdoa, Dia merebahkan diri-Nya ke tanah yang memberi gambaran kepada kita bahwa  Dia sangat bersungguh-sungguh membawa pergumulan-Nya kepada Bapa-Nya yang  di Sorga dan hal yang terpenting saat itu  Yesus Kristus ingin menyatukan jiwa dan Roh-Nya bersama dengan Allah Bapa yang di sorga. Ketika bersatunya roh Yesus Kristus dengan Allah,  saat itu juga  Yesus memperoleh kekuatan Ilahi untuk menjalani dan melewati pergumulan-Nya serta menimbulkan keyakinan yang sangat besar bahwa Allah Bapa tidak akan meninggalkan dan membiarkan-Nya untuk melaksanakan  tugas yang merupakan rencana Allah untuk keselamatan seluruh manusia.

  1. Berpasrah kepada Kehendak Allah Bapa di sorga.

Ayat 36 berbunyi Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi  janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan  apa yang Engkau kehendaki.” Perkataan Yesus Kristus ini adalah sebuah permohonan kepada Allah Bapa tanpa ada unsur paksaan agar Allah mau melakukan kehendak Yesus, melainkan permohonan Yesus ini sangat jelas Dia ingin memasrahkan  situasi yang terjadi sepenuhnya kepada kehendak Allah Bapa di sorga, kepasrahan ini juga mengandung makna  ketaatan  dan ketulusan Yesus sehingga apapun yang menjadi keputusan Allah, Yesus akan melakukannya.

  1. Mengendalikan Emosi.

Sekembalinya Yesus dari berdoa didapati murid-murid-Nya sedang tertidur dan  hal ini terjadi lebih dari satu kali, tidak sedikitpun Yesus menunjukkan amarah atau emosi yang berlebihan. Padahal saat itu Yesus sedang dalam suasana yang tertekan akibat pergumulan yang amat berat. Yesus dalam kemanusiaannya merespon sikap dari  murid-murid-Nya Petrus, Yakobus dan Yohanes yang tidak memiliki  kepedulian kepada-Nya  menunjukkan pengendalian emosi yang sangat baik.

Yesus Kristus dalam kemanusiaannya sudah memberikan teladan bagi saya dan anda sekalian. Dalam kesendirian Dia membuktikan bagaimana DOA dapat memberi kekuatan dan kuasa untuk memperoleh kemenangan atas beban dan pergumulan di taman Getsemani. Bagaimana dengan taman Getsemani anda?.

Mungkin sekarang anda berkata; “ Pdt, sudah terlambat, hati saya sudah terlanjur hancur dan  sakitnya sudah tak tertahankan lagi  pernikahan kami sudah pasti bubar “.

“ Bagaimana saya dan keluarga dapat bertahan hidup, kalau tidak memiliki pekerjaan?”, “ Apakah Tuhan benar-benar ada, kalau Tuhan benar-benar ada kenapa sakit saya tidak kunjung sembuh?”

“ Pdt…saya sudah berdoa siang malam, bahkan sudah berpuasa, tapi kenapa hidup saya ini tidak ada perubahan?”

Semua pertanyaan yang sudah anda sampaikan, merupakan pertanyaan yang sangat manusiawi, pertanyaan yang benar-benar sebuah realita yang terjadi dalam hidup kita semua. Tapi saat ini saya mau katakan kepada anda, bahwa anda sekalian sangat berharga dan bernilai di mata Yesus Kristus , Tuhan kita.

Anda harus ingat Yesus Kristus telah bergumul sendiri di taman Getsemani dengan mencucurkan tetesan-tetesan seperti darah dan Dia telah menang demi anda, keluarga anda dan semua umat manusia. Dan kemenangan-Nya yang akan memampukan anda  meraih kemenangan di taman Getsemani anda.

 

Apapun keadaan anda sekarang, Tuhan Yesus menghendaki agar anda kembali menjadikan DOA sebagai senjata rohani untuk menghadapi setiap pergumulan hidupmu. Doa akan menjadi senjata rohani anda jikalau Roh Allah telah menyatu dengan anda, Roh Allah akan menyatu dengan anda jika  hati anda terbuka untuk Dia. Hati yang dipenuhi Roh Allah yang akan menjadikan anda  pribadi yang selalu berpasrah penuh kepada kehendak Allah dan menjadi seorang yang memiliki pengendalian emosi yang baik.

 

“Kesendirian dalam menghadapi pergumulan, bukan suatu alasan untuk tidak berdoa”

TUHAN YESUS MEMBERKATI…………….AMIN.

(Anchun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here