“Kuk-‘Stola’ adalah Beban!..?”

0
23
Pelayan Khusus (Pelsus)./sulutimes

Penulis: Janni Kasenda

STOLA adalah vestimentum liturgis dari berbagai denominasi Kristen. Stola berupa sehelai selempang kain dengan bordiran, dulunya berbahan dasar sutera, panjangnya sekitar tujuh setengah sampai sembilan kaki dan selebar tiga sampai empat inci, makin ke ujung makin lebar.

Kata Latin stola berasal dari kata Yunani στολη (stolē), “pakaian”, arti aslinya adalah “tatanan” atau “kelengkapan”.

Stola mula-mula merupakan semacam syal yang dikenakan menutupi bahu dan menjuntai di bagian depan tubuh; syal yang dikenakan kaum wanita memang sangat besar ukurannya. Setelah dialihgunakan oleh Gereja Roma sekitar abad ke-7 (stola juga telah dipergunakan oleh Gereja-Gereja lokal lain sebelumnya), bentuk stola makin lama makin menyempit dan dipenuhi hiasan karena stola dikembangkan menjadi semacam tanda kehormatan. Kini stola biasanya lebih lebar dan dapat dibuat dari berbagai jenis bahan.

Ada banyak teori mengenai “leluhur” stola. Ada yang berpendapat bahwa stola berasal dari tallit (mantel sembahyang Yahudi), karena kemiripannya dengan tata cara penggunaan tallit saat ini (pemimpin ibadah Yahudi mengerudungi kepalanya dengan tallit pada saat memimpin doa) tetapi teori ini sudah tidak dipergunakan lagi sekarang. Teori yang lebih populer adalah bahwa stola berasal dari semacam kain lap liturgis yang disebut orarium dan sangat mirip dengan sudarium. Kenyataanya, di banyak tempat stola disebut orarium. Oleh karena itu stola dihubung-hubungkan dengan kain lap yang digunakan Yesus tatkala membasuh kaki murid-muridNya, dan merupakan simbol yang tepat bagi kuk Kristus, yakni kuk pelayanan.[wkp]

“Kuk-‘Stola’ adalah Beban!..?”
Tak bisa dipungkiri bahkan hilang, tongkat pelayanan harus terus ber-estafet, sedari melanjutkan maupun muncul yang baru. Disadari, semua pemangku pelayanan akan berakhir ketika masanya tiba. Karena diyakini yang berlaku semua merupakan rancangan-NYA.

Ketika tak lagi melanjutkan bukan berarti berhenti pula pelayanan yang pernah diembannya. Namun akan tetap menjadi ‘anak manusia’, teladan serta contoh bagi pe-estafet.

Seiring makna Kuk-‘Stola’ adalah Beban!..? Seperti ulasan di atas, di Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), kuk pelayanan yang sekarang dipakai Pelayan Khusus (Pelsus) Pendeta, Guru Agama, terlebih Penatua dan Syamas/Diaken bukan untuk mencari popularitas, gagah-gagahan bahkan harus dihormati. Hal tersebut menegaskan bahwa yang memakainya telah dipersiapkan dan dipilih oleh-NYA.

“Memakainya” mempunyai tanggungjawab yang besar dan sangat berbeban. Yah terlebih bagi Penatua dan Syamas/Diaken atau ‘anak manusia’ fungsinya menegur, menasehati dan menghibur jemaat. Ia menekankan pembaharuan hati dan jiwa, menjadi tonggak dan memperkokoh pelayanan, memberi pengajaran yang sehat, berkorban bagi jemaat serta tak bisa dipungkiri tentunya menyita waktu pribadi, keluarga dengan mendahului pelayanan kepada jemaat seperti tugas dan peran ‘anak manusia’ panggilan Allah kepada Yehezkiel.

Setelah semuanya pemberian diri, tenaga, tanpa pamrih upaya dilakukan, toh masih pula terasa kurang bagi para segelintir jemaat. Sehingga muncul ejekan, cibiran, cemoohan bahkan dilecehkan. (Bisae dia – payah dia – gagal dia – sudah jo dia dan ungkapan lainnya, dialek Manado,red). Sehingga memunculkan kepedihan dan kesesakan hati.

Itulah sedikit yang tergambar dari “Kuk-‘Stola’ adalah Beban!..?”.

Pelayan Tuhan, teruslah melaksanakan tugas dengan membekali diri dengan Firman Tuhan dan senantiasa memberi tempat kepada Roh Kudus untuk berdiam dalam diri-Nya sebab oleh Roh Kudus seseorang mampu menguasai diri, sabar menderita dan dapat menunaikan tugas pelayanan sampai akhir; artinya pelayan Tuhan memiliki kualifikasi, dimana tidak lagi diragukan karakter Kristus di dalam dirinya serta pengetahuan Alkitab yang sehat.

Melalui kerja pelayanan gereja yang diwarnai dengan hal-hal di atas, diharapkan dapat menghasilkan perilaku hidup jemaat yang berkenan kepada Tuhan.

Bagi yang terpilih kedepannya, marilah kerja buat Tuhan dengan kerendahan hati yang gembira, kasihilah dan berkatilah serta setialah kepada-Nya. Karena Dia akan memperhitungkan jerih lelah mu dan upahmu besar di sorga.

Hati yang gembira, Adalah obat, S’perti obat hati yang senang, Tetapi semangat yang patah, Keringkan Tulang, Hati yang gembira, Tuhan Senang.

“Segala perkara dapat ku tanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku”. Filipi 4:13

“Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku, dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa”. Mazmur 23:6.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here