BERJUANGLAH SELAGI ADA WAKTU!

0
141

RENUNGAN
LUKAS 13:22-30
by. Pdt. Deni Leyden Waljufri

Pdt. Deni Leyden Waljufri
Siapa yang (akan) diselamatkan? Pertanyaan ini seharusnya menjadi pertanyaan yang mendesak dari seluruh umat manusia yang peduli terhadap kehidupan. Pertanyaan ini menjadi pergumulan manusia dari abad ke abad ketika menyadari terbatasnya waktu hidup di dunia ini. Iman Kristen dengan jelas mengatakan: Tuhan Yesus datang membawa keselamatan! Pengorbanan diri-Nya cukup untuk menyelamatkan orang yang percaya. Tapi, kenyataannya, banyak orang tak peduli dengan keselamatan. Banyak orang tak merasa telah diselamatkan. Atau jangan-jangan, banyak orang merasa tak perlu diselamatkan lagi?
Pertanyaan dalam ayat 24 bacaan ini menunjukkan entengnya pandangan seseorang terhadap keselamatan. “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Terdengar seperti peduli tetapi sebenarnya merasa remeh. Kenapa? Pertama, mempertanyakan dengan kata nominal kurang (sedikit) berarti menganggap sebaliknya: banyak. Pertanyaan “sedikit sajakah?”, berarti ia merasa seharusnya banyak yang pantas diselamatkan. Kedua, latar belakang penanya dapat kita ketahui sebagai orang Yahudi. Ia merasa sebagai orang Yahudi otomatis pasti diselamatkan! Bukankah hubungan Yesus sebagai orang Yahudi memperkuat janji Allah tentang keselamatan bagi bangsa pilihan-Nya? Jelas inilah yang diucapkan kepada nenek moyang, kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Pertanyaan orang ini sekaligus hendak meragukan ajaran Yesus. Mungkin pikirnya: ah, Tuhan, ajaran-Mu itu keliru!
Memang, perasaan superioritas orang Yahudi inilah yang menjadi penekanan Yesus tentang keselamatan dalam bacaan ini. Konteks penulisan Injil Lukas memperjelas alasan ini. Lukas adalah seorang Yunani yang bertobat, satu-satunya orang bukan Yahudi yang menulis sebuah kitab di dalam Alkitab. Ketika ia menulis Injilnya, agaknya gereja bukan Yahudi belum memiliki Injil yang lengkap atau yang tersebar luas mengenai Yesus. Dia hidup di luar Yudea dan menulis untuk orang-orang bukan Yahudi. Pendapat tersebut didukung oleh tema kunci Injil Lukas bahwa Allah mengutus Yesus untuk menjadi Juruselamat bagi seluruh umat manusia, baik orang Yahudi maupun bangsa lain. Pokok pikiran dari Lukas salah satunya ialah: Israel ditolak oleh Allah, sedangkan bangsa-bangsa bukan Yahudi dipanggil untuk keselamatan. Hubungan keturunan orang Yahudi dengan Yesus tidak menjamin keselamatan dengan mudah didapatkan bagi orang Yahudi.
Maka mengertilah kita mengapa Yesus menjawabnya dengan berkata: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!” Yesus sementara menegur angkuhnya keyahudian yang merasa berhak diselamatkan. Memang, kata berjuang dan pintu yang sempit sepertinya menunjuk pada usaha manusia. Apakah masuk ke dalam kerajaan Allah memerlukan upaya manusia? Bukankah ini bertentangan dengan ajaran Yesus bahwa keselamatan semata-mata kasih karunia yang diterima dengan iman? Lalu apa maksud Yesus dengan jawaban-Nya terhadap orang yang bertanya itu?
Persoalannya bukan pada usaha manusia, melainkan pada kesediaan manusia membuka dirinya sementara kesempatan masih terbuka untuknya. Bahwa kerajaan Allah sendiri memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk menyelamatkan manusia, tidak perlu diragukan lagi . Masalahnya terletak pada manusia yang sering menganggap sepele perlunya bertobat. Mungkin berpikir menganggap waktunya masih panjang? Atau juga menganggap diri sudah dengan sendirinya menjadi umat pilihan. Ucapan Tuhan Yesus ini dengan sendirinya ditujukan kepada umat Yahudi. Tapi sebaliknya, orang-orang non Yahudi yang justru menerima dengan tangan terbuka undangan untuk bertobat. Merekalah yang pada akhirnya akan mendahului bangsa Yahudi untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Masuk ke dalam Kerajaan Allah bukan masalah usaha manusia, melainkan kesadaran manusia bahwa ia membutuhkannya. Kuasa-nya akan membawa setiap orang yang merendahkan dirinya untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Atas pertanyaan mengenai orang yang diselamatkan, Yesus menjawab justru dengan mengungkapkan urgensi waktu. Pintu sempit menyebabkan orang harus berjuang dan berdesak-desakan dengan orang lain untuk memasukinya. Jangan menunda-nunda mengambil keputusan! Sikap menunda orang Yahudi disebabkan oleh keyakinan mereka bahwa mereka sudah pasti akan masuk Kerajaan Allah, sehingga tidak merasa urgensinya untuk mengambil keputusan.
Sekarang, pesan ini ditujukan kepada kita sebagai umat yang diselamatkan. Masihkah kita merasa diselamatkan? Pernahkah kita berjuang saat menyadari keselamatan itu dianugerahkan kepada kita. Jangan-jangan, sekarang kitalah yang ditegur Tuhan Yesus karena menjadi seperti orang Yahudi saat itu. Menjadi pengikut Kristus tapi tidak merasa diselamatkan. Atau tidak lagi butuh keselamatan. Inilah yang kita saksikan sekarang dalam kehidupan bergereja. Kadang-kadang kehidupan iman jemaat terlihat kering, karena umat menjadikan persekutuan sebagai rutinitas belaka. Bergereja tanpa semangat, karena merasa tidak ada yang perlu diperjuangkan.
Berada dalam anugerah keselamatan bukan berarti berpangku tangan. Urgensi waktu yang disediakan bagi kita tidak banyak. Besok, lusa atau kapan pun bisa saja waktu kita di dunia selesai. Kata Yesus tentang pintu yang sempit itu menyentak kesadaran kita, bahwa hidup sebagai orang yang diselamatkan perlu diperjuangkan. Bagaimana memperjuangkannya? Hiduplah dalam kekudusan seperti yang Tuhan minta. Kekristenan sama seperti keyahudian sebagai identitas tidak lah menjamin hak keselamatan itu. Tapi bagaimana respon atas anugerah yang Tuhan beri, itu yang utama. Dengan demikian banyak orang tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (keselamatan), sehingga orang terdahulu (Yahudi) menjadi orang yang terakhir, dan menyaksikan orang bukan Yahudi menduduki tempat mereka pada perjamuan Mesias.
Pesan ini juga merupakan peringatan bagi kita. Bertobatlah dan masuklah ke dalam Kerajaan Allah segera, selama pintu masih terbuka. Yesus berkata bahwa kita harus berusaha keras untuk masuk karena belum tentu ada kesempatan lain. Ini bukan berarti bahwa keselamatan dapat diperoleh dengan usaha manusia, tetapi karena waktunya begitu singkat. Bagaikan hadiah yang sedang diperebutkan banyak orang, kita harus menggapainya. Kita tidak boleh bersikap pasif! Segera atau kita akan kehilangan! Karena itu, jangan tunda! Jangan sampai terlambat! Inilah waktunya untuk mengambil keputusan! Jangan sampai kesempatan ditutup dan kita akan menyesal selama-lamanya. Ingatlah pula, ada saudara-saudara, keluarga, bahkan sahabat yang memerlukan kesadaran akan keselamatan ini. Sedihlah kita membayangkan seperti kata Yesus, saat iring-iringan orang percaya yang selamat memasuki pintu Kerajaan Allah, ternyata ada suami, istri, anak, atau orang tua kita yang dicampakkan keluar dan memandang dari luar. Bayangkanlah! Berjuanglah untuk mereka juga! Selagi masih ada waktu, sekali lagi, selagi masih ada kesempatan. Amin.

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here