KONSEP KHOTBAH MINGGU, 2 FEBRUARI 2020

YESAYA 2:1-5

 

Pdt. ‎Chrystshinov Mawitjere
Pdt. Chrystshinov Mawitjere

Tema khotbah saat ini ialah “Rumah Allah, Inspirasi Perubahan. Saya akan mengawali khotbah ini dengan memaparkan sedikit pemahaman terhadap teks bacaan kita Yesaya 2:1-5 dan nanti sesudah pemahaman atas teks ini tergambar kepada kita baru kita berefleksi dan beraplikasi dari pemahaman itu sehubungan dengan tema khotbah tadi.

Kitab Yesaya terdiri dari 4 bagian. Bagian I pasal 1 – 39 berisi nubuat tentang Yehuda dan Yerusalem. Bagian II pasal 40 – 48 berisi nubuat keselamatan untuk umat Yehuda yang berada di dalam pembuangan, bagian III pasal 49 – 55 berisi berita tentang Hamba Tuhan, dan bagian IV pasal 56 – 66 berisi nubuat tentang keselamatan dan syarat-syaratnya.

Posisi teks bacaan kita ini ada di bagian I, yaitu nubuat tentang Yehuda dan Yerusalem. Sebelum kita melihat secara khusus pasal 2:1-5, mari kita perhatikan sejenak isi berita pada pasal sebelumnya.

Di seluruh pasal 1 nabi Yesaya menggambarkan tentang kehidupan umat Yehuda saat itu. Intinya, umat Yehuda hidup di dalam dosa. Akibatnya mereka akan mengalami penghukuman Tuhan. Namun ada seruan untuk bertobat, berbalik, kembali hidup di jalan Tuhan, agar bukan penghukuman melainkan kasih dan berkat Tuhan yang akan dialami.

Di pasal 2:1-5 yang menjadi teks perenungan kita ini, nabi Yesaya menubuatkan keadaan Yehuda dan Yerusalem pada hari-hari terakhir. Pada bagian lain, “hari-hari terakhir” itu sering juga disebut hari Tuhan. Yang dipahami umat Israel dengan hari-hari terakhir atau hari Tuhan itu adalah pertama, saat di mana Allah akan datang untuk mendirikan Kerajaan-Nya, dan pada saat itu semua musuh Israel dikalahkan, kejahatan dilenyapkan dan Israel Berjaya. Tetapi juga yang kedua, hari-hari terakhir itu adakalanya menunjuk pada akhir dari sejarah atau akhir zaman di mana Allah secara ultimat melenyapkan segala kejahatan dan memulihkan sisa-sisa umat yang percaya kepada-Nya ke dalam suatu kondisi kehidupan yang penuh damai sejahtera.

Nah, apa yang akan terjadi pada hari-hari terakhir itu menurut Yesaya dalam teks ini?

Pertama, “Gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit” (ayat 2). Yang dimaksud dengan gunung rumah Tuhan di sini ialah gunung Sion yang ada di kota Yerusalem ibu kota Kerajaan Yehuda (Israel Selatan). Di gunung/bukit Sion berdiri Bait Allah atau disebut di sini rumah Tuhan. Keberadaan Bait Allah di Yerusalem membuat kota Yerusalem bukan hanya menjadi pusat pemerintahan kerajaan Yehuda, tetapi juga menjadi pusat keagamaan kerajaan Israel raya, baik Israel Selatan (Yehuda) maupun Israel Utara.

Perhatikan kata “berdiri tegak” di ayat 2 ini. Artinya, Yerusalem dan rumah Tuhan nyang ada di situ akan kembali berdiri tegak dan Berjaya.

Kehidupan di dalam dosa yang tak berujung pada pertobatan, mengakibatkan Yerusalem diporak-porandakan Nebukadnezar raja Babel pada tahun 587 SM. Bait Allah dihancurkan dan sejumlah penduduk Yerusalem diangkut ke Babel sebagai orang buangan. Namun pada akhirnya Yerusalem dan Bait Allah akan dipulihkan, akan kembali Berjaya.

Kedua, segala bangsa dan suku bangsa akan pergi ke rumah Tuhan di Yerusalem itu (ay 2d – 3b). Kejayaan Bait Allah dan Yerusalem ditandai dengan banyaknya orang, baik dari kalangan Israel sendiri maupun dari segala bangsa dan suku bangsa yang akan datang ke Bait Allah itu.

Ketiga, Dari Bait Allah akan keluar pengajaran Firman Tuhan, lalu orang-orang yang datang ke Bait Allah itu mendengar dan menaati pengajaran itu dengan hidup menurut jalan Tuhan (ay. 3).

Kempat, Ketika semua orang yang datang ke Bait Allah menaati pengajaran Firman Tuhan maka hidup mereka akan diubahkan, dari jahat menjadi baik, dari bermusuhan menjadi bersaudara, dari ketiadaan kasih menjadi penuh kasih persaudaraan, dari egoisme menjadi pengertian dan suka bekerja sama (ayat 4).

Jemaat yang dikasihi Tuhan.

Inti dari nubuat ini ada di ayat 5, yaitu ajakan untuk berjalan dalam terang Tuhan. Itulah ajakan pertobatan, ajakan untuk berubah.

Jadi, melalui teks ini sang nabi memperlihatkan tentang keadaan akhir Yerusalem dan Rumah Tuhan. Bahwa Rumah Tuhan akan berdiri tegak, orang-orang akan datang ke sana untuk belajar Firman Tuhan lalu hidup mereka diubahkan oleh Firman Tuhan menjadi orang-orang yang berjalan di dalam terang Tuhan.

Jemaat yang dikasihi Tuhan

Di satu sisi nabi Yesaya berbicara tentang keadaan akhir, tetapi di sisi lain gambaran tentang keadaan akhir itu mau mendorong umat untuk mulai mewujudkannya kini. Sang nabi memperlihatkan gambaran tentang orang-orang yang beribadah dan diubahkan pada zaman akhir, tetapi di sisi lain gambaran itu merupakan ajakan untuk mulai mewujudkan perubahan hidup itu kini.

Jemaat yang dikasihi Tuhan.

Sekali lagi, tema perenungan kita saat ini ialah Rumah Allah, inspirasi perubahan”. Tema ini mengandung tiga indicator yaitu: Rumah Allah, inspirasi dan perubahan. Mari kita lihat tiga indicator ini satu demi satu dengan mengacu pada pemahaman teks kita tadi.

Mengacu dari pemahaman teks tadi maka rumah Allah di sini menunjuk pada Bait Allah di bukit Sion di Yerusalem yang menjadi pusat ibadah umat Israel. Bait Allah ini dibangun oleh raja Salomo, tapi kemudian dihancurkan oleh tentara Babel pada tahun 587 SM. Setelah umat Yehuda kembali dari pembuangan, Bait Allah dibangun kembali di tempat yang sama dan pembangunannya selesai kurang lebih tahun 515 SM. Pada tahun 19 SM Raja Herodes Agung merenovasi Bait Allah tersebut sehingga makin besar dan megah. Namun pada tahun 70 M pasukan Romawi di bawah pimpinan kaisar Titus menghancurkan Bait Allah tersebut. Sampai hari ini Bait Allah Yerusalem belum pernah dibangun kembali.

Dalam kaca mata iman Kristen Bait Allah atau Rumah Tuhan sesungguhnya bukan sebuah bangunan. Bait Allah sesungguhnya adalah persekutuan orang percaya sebagaimana yang dikatakan dalam 1 Korintus 3:16, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” kata “kamu” di sini menunjuk pada persekutuan orang-orang percaya. Itulah gereja.

Inspirasi secara umum dipahami sebagai suatu proses yang mendorong atau merangsang pikiran untuk melakukan sesuatu tindakan terutama melakukan sesuatu yang kreatif. Dalam konteks pemahaman kita ini kita dapat memahami inspirasi sebagai dorongan untuk melakukan perubahan yang dimulai pada diri sendiri, kemudian pada keluarga dan komunitas.

Perubahan, mengacu dari pemahaman teks kita tadi menunjuk pada perubahan sikap yang tentu dimulai dari hati. Yaitu, berubah dari hidup dalam dosa pada hidup dalam ketaatan. Dari berjalan di jalan yang jahat dan beralih ke jalan Tuhan. Dari berjalan dalam gelap ke jalan yang terang.

Perubahan seperti itu jugalah yang diserukan Rasul Paulus dalam Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Perubahan seperti itu dimulai dari diri sendiri setiap orang percaya, lalu kemudian akan berdampak pada perubahan sosial.

Jadi, tema “Rumah Tuhan inspirasi perubahan” mengandung paling kurang dua pesan. Pertama, gereja harus menjadi tempat di mana orang-orang percaya terdorong untuk berubah. kedua, orang-orang percaya harus senantiasa giat bergereja agar perubahan demi perubahan terjadi di dalam hidupnya.

Mari kita fokus pada pesan pertama, yaitu bahwa gereja harus menjadi tempat di mana orang-orang percaya terisnpirasi untuk berubah.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Ada ungkapan yang berkata begini: the church is not a storefront for saints but a workshop for sinners (gereja bukanlah etalase untuk orang kudus melainkan bengkel untuk orang berdosa). Di dalam dan melalui gereja para pendosa hendak diubahkan menjadi para pelaku Firman. Orang-orang yang berjalan di jalan yang gelap dan jahat diubahkan sehingga berjalan di jalan terang Tuhan.

Bila demikian, belajar dari teks bacaan kita tadi, bagaimana ciri-ciri Rumah Tuhan (gereja) yang berfungsi sebagai inspirasi perubahan?

Ayat 2 dan 3 pembacaan kita tadi berkata, “…segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata “mari, kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan Firman Tuhan dari Yerusalem.””

1. Warga gereja yang memiliki komitmen pada gereja.

Perhatikan kata “berduyun-duyun”. Bukankah itu menggambarkan animo, keinginan kuat, kerinduan besar, atau katakanlah komitmen untuk bergereja. Sudahkah kita sebagai warga gereja memiliki komitmen pada gereja kita? Komitmen pada gereja adalah komitmen untuk aktif bergereja, tertanam di dalam gereja dan bertumbuh di dalam gereja. Mungkin kita tidak puas, bahkan mungkin masih kabur dalam beberapa aspek dan persoalan gereja kita, namun bagaimanapun juga kita harus tetap terikat pada Kristus dan gereja-Nya.

2. Gereja yang belajar.

Untuk apa segala bangsa berduyun-duyun pergi ke gunung rumah Tuhan? Yaitu supaya menerima pengajaran Tuhan. Untuk apa warga gereja memiliki komitmen bergereja? Aktif Beribadah? Yaitu untuk belajar Firman Tuhan. Gereja yang menjadi inspirasi perubahan adalah gereja yang belajar. Apa yang dinubuatkan nabi Yesaya dalam teks bacaan kita ini digenapi dalam Perjanjian Baru, antara lain seperti kesaksian Lukas dalam Kisah Para Rasul 2:42 “mereka bertekun dalam pengajaran Rasul-rasul dan dalam persekutuan…”

Gereja harus menjadi sekolah Alkitab, guru-gurunya adalah para pendeta yang telah dipilih dan dididik oleh Tuhan Yesus melalui pendidikan Teologi, dan melalui Penatua, syamas dan guru agama yang selalu belajar Alkitab bersama para pendeta untuk bisa mengajar Alkitab kepada warga gereja di kolom dan persekutuan BIPRA. Melalui Para pelayan Khusus Tuhan mau mengajari orang-orang percaya tentang jalan-jalan-Nya.

Gereja yang menjadi inspirasi perubahan adalah gereja yang belajar. Para pendeta menjelaskan Kitab Suci dari atas Mimbar, melatih para Pelsus dan pelayan awam tentang bagaimana memahami Alkitab dan mengajarkannya melalui kegiatan-kegiatan Penelaahan Alkitab dan pembekalan pelayan, lalu para Pelsus dan pelayan awam mengajarkan Kitab Suci di kolom-kolom dan persekutuan BIPRA, para orang tua mengajarkan Kitab Suci kepada anak-anak mereka di rumah, dan para warga gereja membaca dan merenungkan Kitab Suci setiap hari agar bertumbuh dalam pemuridan iman, dan semua itu terjadi dalam pimpinan Roh Kudus. Ciri pertama gereja yang menginspirasi perubahan adalah gereja yang belajar.

3. Gereja yang beribadah.

Untuk apa orang-orang berduyun-duyun naik ke gunung Rumah Tuhan? Pertama untuk menerima pengajaran, kedua tentu untuk beribadah. Umat Perjanjian Lama meyakini bahwa Allah hadir di Bait Allah untuk memberkati umat-Nya. Ketika Allah hadir maka umat patut menyembah dan memuliakan Dia melalui upacara peribadahan.

Kita pun meyakini bahwa Allah hadir di tengah-tengah umat-Nya, di tengah-tengah kita sebagai gereja. Karena itu kita patut menyembah dan memuliakan Dia melalui ibadah-ibadah gerejawi kita. Karena itu di satu pihak warga gereja harus rajin beribadah, dan di pihak lain para pelayan gereja harus menata dan menyelenggarakan ibadah se-Alkitabiah mungkin.

Di satu sisi ada ibadah yang suasananya seperti pemakaman, semua orang diam tak bersuara, lagu-lagu dinyanyikan dengan kecepatan seekor kura-kura dan seluruh atmosfir ruangan ibadah terasa suram. Tetapi di sisi lain ada ibadah yang seperti suasana diskotik, di mana orang-orang bertepuk tangan berjingkrak-jingkrak nge-rock. Ibadah yang Alkitabiah adalah ibadah yang penuh sukacita karena merayakan keselamatan dari Tuhan, tetapi juga penuh hikmat dan hormat karena Tuhan hadir dan umat datang untuk menyembah.

Sebagaimana Allah hadir di gunung rumah Tuhan, demikian juga Allah hadi di tengah-tengah kita gereja-Nya, dan kita bersujud di hadapan-Nya dengan rasa bercampur aduk antara kekaguman dan kerendahan hati yang kita sebut sebagai penyembahan.

4. Gereja yang mengasihi.

“…maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang” (ay 4). Artinya komunitas akhir zaman itu memiliki gaya hidup mengasihi. Permusuhan jauh dari mereka. Yang ada hanyalah kerja sama dan tolong menolong dalam kasih.

Gereja yang menginspirasi perubahan adalah gereja yang ditandai dengan kasih. Warganya hidup saling mengasihi satu dengan yang lain. Mereka saling memperhatikan, saling peduli, saling menolong, saling mendoakan, saling menguatkan dan saling menasehati (ingat perenungan kita di minggu yang lalu).

Persekutuan yang penuh kasih itu ibarat lahan yang subur, di mana ketika benih ditabur benih itu akan cepat bertumbuh dengan subur. Dalam persekutuan yang penuh kasih Roh Kudus akan bekerja dengan aktif mendoring setiap orang bertumbuh dan berubah di dalam Tuhan. Bagaiamana dengan persekutuan jemaat kita? Kolom kita? Mari kita semua menciptakan Aura Kasih dalam persekutuan kita.

Inilah 4 ciri gereja yang menjadi inspirasi perubahan, yaitu: 1)warga gereja yang memiliki komitmen pada gereja, 2) gereja yang belajar, 3) gereja yang beribadah, 4) Gereja yang mengasihi. Amin.

Pdt. ‎Chrystshinov Mawitjere
Pdt. Chrystshinov Mawitjere

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here