Lidah Allah Tidak Terbendung!

0
235
Pdt. Hesty J. Laleleh – Kopalit, S.Th
Pendeta Jemaat di GMIM Eben Haezar Talikuran
Wil. Kawangkoan Satu

Bilangan 22:21-35
Lidah Allah Tidak Terbendung
oleh : Pdt. Hesty J. Laleleh – Kopalit, S.Th

Dalam film Animasi (kartun), biasanya kita akan menemui ada beberapa makhluk (hewan & tumbuhan) yang bisa berbicara padahal dalam kehidupan nyata mereka tidak bisa berbicara. Produser film tentu telah mengatur sedemikian rupa supaya tokoh2 dalam film kartun tersebut terlihat seperti hidup dan nyata.

Kitab Bilangan 22:21-35 menampilkan juga makhluk (hewan-keledai) yang bisa bicara. Tapi peristiwa ini bukan setingan dari penulis kitab Bilangan tetapi benar2 sesuatu yang nyata dan terjadi atas kehendak Tuhan. Bagian Alkitab ini mau menunjukkan bagaimana Tuhan menyatakan otoritas-Nya. Tuhan menunjukkan kehendak-Nya kepada orang yang salah memilih jalan lewat seekor keledai.

Keledai ini milik dari seorang tukang tenung (ahli sihir) (22:7) yang bernama Bileam. Perikop sebelum (Bilangan 22:2-20) telah menjelaskan bagaimana Balak raja bangsa Moab yang merasa terancam dengan kehadiran bangsa yang besar yaitu bangsa Israel. Bileam dibujuk oleh raja Balak dengan iming2 bayaran besar, untuk melakukan suatu pekerjaan yang tidak diinginkan Tuhan yaitu mengutuki bangsa Israel, yang adalah bangsa/umat yang diberkati (22:12). Awalnya Bileam menolak atas petunjuk Tuhan. Namun ternyata Bileam tergoda meraih kesempatan besar untuk keuntungannya sendiri, padahal dia telah mendapat peringatan bahwa tindakannya itu akan dibatalkan. Walaupun Allah sudah mengizinkan Bileam pergi (22:20), akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa Ia menyetujui atau membenarkan tindakan tersebut. Bileam tidak mampu melihat bahwa tindakan yang dilakukannya sesungguhnya membangkitkan murka Allah (22:22). Tidak ada yang lebih membuat Allah murka, selain daripada rencana jahat yang dirancang bagi umat-Nya yang adalah biji mata-Nya. Ambisi dan nafsu untuk memiliki kekayaan telah membutakan mata Bileam, sehingga ia tidak menyadari kehadiran malaikat dan keanehan tingkah laku keledainya sampai tiga kali (ay 22-27).

Biasanya, seseorang yang sedang melakukan dosa tidak peka terhadap petunjuk Tuhan, dan akan marah bila tindakannya dihalangi. Ketika malaikat menampakkan diri dalam perjalanan, Bileam tidak bisa melihat kehadiran malaikat itu karena mata imannya telah dibutakan dengan dosa. Bileam justru marah ketika keledainya berusaha untuk menyimpang dari jalan yang akan dilaluinya dan memukul keledainya. Bahkan ia berniat membunuh keledainya, padahal keledainyalah yang menghindarkan dia dari kematian (ay 23). Ia juga tidak mau mendengarkan perkataan keledai, yang ajaib tiba2 bisa berbicara kepadanya (ay 28). Barulah setelah Tuhan membuka matanya (ay 31), Bileam mengakui kesalahannya dan menyatakan kesediaannya untuk pulang, jika Tuhan menginginkan (ay 34). Namun Malaikat Tuhan menyuruh Bileam untuk tetap pergi, dengan satu syarat, ia harus berbicara sesuai perintah Tuhan (ay 35).

Gereja masa kini seringkali juga sering terjebak pada sikap hidup seperti Bileam. Salah satu tantangan yang menghambat pertumbuhan gereja adalah ambisi dan nafsu untuk mengejar harta dan kedudukan, dijadikan sebagai tujuan hidup yang utama. Dan akibatnya mata rohani kita tertutup sehingga tidak peka dan mampu melihat apa yang sedang dilakukan oleh Allah. Tawaran yang menggiurkan tidak mampu di tolak, meskipun menjerumuskan tapi seperti mendorong kita untuk melakukan hal yang bertentangan dengan perintah Tuhan. Sekilas terlihat seperti menolak godaan, tapi ternyata tidak membenci godaan itu. Bahkan memiliki keinginan yang kuat untuk menerima tawaran itu, sambil berharap bahwa Tuhan akan memberi izin untuk berbuat dosa.

Untuk menyadarkan Bileam maka Allah memakai “keledai” sebagai sarananya.
Meskipun keledai sering menjadi simbol hewan yang bebal dan bodoh tetapi justru dipakai Tuhan untuk meningatkan Bileam.

Ada ungkapan “Sekalipun keledai sering dipandang sebagai hewan bodoh, tetapi ia tidak mau terperosok pada lubang yang sama.”

Kesalahan awal Bileam ketika dia tidak mampu memahami maksud Allah sejak awal dan kesalahan yang paling fatal ketika mata imannya tertutup dengan dosa.

Manusia yang memiliki akal budi dibandingkan dari keledai seharusnya tidak melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang.

Terkadang kita tidak mengerti jalan Tuhan. Tuhan sanggup memakai apa yang kita anggap lemah untuk mengingatkan kita dan menjadi kebaikan bagi kita.

Tuhan Allah mampu melakukan berbagai cara, karena DIA begitu berdaulat. Dengan berbagai cara Ia menghancurkan hati yang keras. Di pihak Bileam, cara Allah itu diresponi dengan menunjukkan pertobatan, yakni dengan mengatakan: “Maka sekarang, jika hal itu jahat di mata-Mu, aku mau pulang” (ay 34)

Kadang kala Tuhan perlu melakukan cara khusus dan tidak lazim hanya untuk menyadarkan dan mengembalikan kita kepada jalan-jalan-Nya agar kita tidak terjerumus kepada kebinasaan. Mungkin kita pernah mengalaminya? Cara Tuhan yang tidak masuk akal tetapi kita harus taat. Terkadang menyesuaikan diri dengan kehendak Allah juga sering menjadi pergumulan kita. Banyak pertimbangan2 untuk melakukan kehendak Allah. Namun seperti Bileam, keinginan untuk tahu tidak disertai dengan ketaatan. Belajar dari kisah Bileam, jangan sampai Allah memaksa kita seperti Dia memaksa Bileam sebab lidah Allah sungguh tidak terbendung.

Karena itu ketika Allah menyatakan kehendak-Nya, pahamilah dan taatilah!
Tuhan Yesus memberkati.
Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here