KONSEP KHOTBAH MINGGU SENGSARA V, 29 MARET 2020
LUKAS 22:63-71

by. Pdt. Chrystshinov Mawitjere. (Pelayanan Umum Sinode GMIM)

Pdt. Chrystshinov Mawitjere. Pelayanan Umum Sinode GMIM,

 

Saya mau memulaikan khotbah ini dengan mengajak kita melihat bersama apa yang dikatakan pada Yohanes 11:53, “mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.” Siapakah Dia yang hendak mereka bunuh di sini? Yesus. Siapakah mereka yang bersepakat membunuh Yesus di sini? Yaitu: Imam-imam kepala, orang-orang Farisi dan Mahkamah Agama Yahudi.Jadi, jauh-jauh hari para pemimpin agama Yahudi sudah bersepakat untuk membunuh Yesus. Sejak kapan? Perhatikan Yohanes 11:47-48, “Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: “apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya…” Jadi kesepakatan untuk membunuh Yesus itu dibuat oleh para pemimpin agama Yahudi, sejak mereka melihat banyak orang Yahudi mengikut Yesus karena Yesus melakukan banyak mujizat. Artinya apa? Kehadiran dan pelayanan Yesus membuat para pemimpin agama merasa terancam. Terancam kewibawaannya, terancam kedudukannya, terancam kekuasaannya, terancam apa lagi? Penghasilannya dan seterusnya. Maka mereka bersepakat membunuh Yesus. Jadi, rencana membunuh Yesus itu sudah lama. Pasti ada rencana, ada skenario, yaitu skenario membuat Yesus terlihat bersalah, supaya ada alasan untuk bisa dibunuh.
Skenario itu sudah mulai dijalankan. Teks bacaan kita Lukas 22:63-71 ini merupakan bagian dari skenario para pemimpin agama Yahudi untuk membunuh Yesus. Dari taman Getsemani di mana Yesus ditangkap, Yesus di bawah ke rumah Imam Besar. Di situ Yesus diolok, dihina, dipukul dan dihujat.
Setelah hari siang, tua-tua Yahudi, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat menghadapkan Yesus ke Mahkamah Agama.Mahkamah agama Yahudi, yang disebut juga Sanhedrin adalah lembaga peradilan yang beranggotakan 71 orang yang terdiri dari 24 imam kepala dan ditambah 46 orang tua-tua yang dipilih dari antara ahli Taurat, Farisi dan Saduki, serta 1 orang Imam besar.
Tugas Sanhedrin ialah mengadili persoalan-persoalan yang muncul di tengah-tengah umat Yahudi, untuk memberikan keputusan yang adil. Standar hukum yang dipakai dalam peradlan ialah Hukum Allah yang diberikan melalui Musa. Prinsip-prinsip dasar peradilan Yahudi antara lain terlihat dalam Ulangan 16:18-20 yang berkata: “Hakim-hakim dan petugas-petugas haruslah kau angkat di segala tempat yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu menurut suku-sukumu; mereka harus mengadili bangsa itu dengan pengadilan yang adil. Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. Semata-mata keadilan, itulah yang harus kau kejar, supaya engkau hidup dan dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu.”

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.
Bangsa Yahudi menganut system pemerintahan Teokrasi. Dalam pemerintahan Teokrasi hukum sipil dan hukum agama berkaitan sangat erat. Standar hukum dan keadilannya ialah hukum Musa, maka ahli-ahli hukumnya adalah juga ahli-ahli hukum Musa atau ahli-ahli Taurat.
Sesudah bangsa Israel kembali dari pembuangan di Babel, Di bawah pimpinan imam Ezra mereka menata kembali system keagamaan mereka. Dalam kaitan dengan itu Lembaga Sanhedrin atau Mahkamah Agama Yahudi terbentuk di Yerusalem sebagai lembaga peradilan tertinggi di Israel.
Jadi, Sanhedrin bertugas mengadili persoalan-persoalan agama ataupun sipil dalam rangka memberikan keadilan sesuai perintah Tuhan Allah kepada setiap orang yang terlibat dalam persoalan. Akan tetapi pada zaman Tuhan Yesus Zanhedrin sudah menjadi lembaga yang korup dan bermuatan politis. Orang-orang yang menjadi anggota Sanhedrin bisa ditentukan oleh penguasa Romawi (dalam hal ini wali negeri) oleh karena faktor kedekatan atau uang. Jadi, soal jabatan yang bisa dibeli, bisa diperoleh karena kedekatan, itu sudah masalah klasik, bukan nanti terjadi kini. Tentu pihak penguasa Roma juga ketika melakukan intervensi terhadap pemilihan Sanhedrin, karena ada kepentingan politik. Maka, muatan kepentingan politik sangat sarat dalam lembaga Sanhedrin di masa Tuhan Yesus. Di satu pihak Roma melakukan intervensi terhadap siapa-siapa yang duduk di Sanhedrin demi kepentingan poilitik dan kekuasaan Roma, demikian juga mereka-mereka yang duduk di lembaga Sanhedrin, mau bekerja sama dan mendukung pihak penguasa Romawi agar mereka bisa langgeng dalam jabatan itu. Mengapa mau langgeng dalam jabatan itu? Karena lembaga itu adalah lembaga yang “basah”.
Kekuasaan Roma atas Yahudi waktu itu sangatlah besar. Jangankan soal intervensi pada siapa-siapa yang akan duduk dalam Sanhedrin, Penguasa Roma pun dapat menunjuk atau memecat imam besar. Karena itulah Sanhedrin yang diketuai oleh Imam besar sering membuat keputusan-keputusan yang bermuatan politis.
Kembali lagi pada soal prinsip peradilan menurut hukum Musa. Dalam menangani sebuah persoalan, hukum Taurat mengatur bahwa harus ada dua orang saksi yang paling dipercaya untuk membuktikan kesalahan dari terdakwa. Akan tetapi juga si terdakwa mempunyai hak untuk meminta pengadilan public (disaksikan oleh masyarakat), hak membela diri dan hal untuk mengajukan saksi. Namun, kemungkinan atas tampilnya saksi-saksi dusta tetap ada. Maka Hukuk Musa dalam Ulangan 19:16-19 berkata: “Apabila seorang saksi jahat menggugat seseorang untuk menuduh dia mengenai suatu pelanggaran maka kedua orang yang mempunyai perkara itu haruslah berdiri di hadapan Tuhan, di hadapan imam-imam dan hakim-hakim yang ada pada waktu itu. Maka hakim-hakim itu harus memeriksanya baik-baik, dan apabila ternyata bahwa saksi itu seorang saksi dusta dan bahwa ia telah memberi tuduhan dusta terhadap saudaranya, maka kamu harus memperlakukannya sebagaimana ia bermaksud memperlakukan saudaranya. Demikian harus kau hapus yang jahat dari tengah-tengahmu.” Jadi, jelas bahwa, jika seseorang bersaksi dusta melawan seseorang tertuduh dengan maksud seupaya tertuduh itu dijatuhi hukuman mati, saksi dusta itu sendiri dapat dijatuhi hukuman mati.

Jemaat yang dikasihi Tuhan. Sanhedrin di bawah pimpinan Imam Besar melakukan peradilan kilat. Apa yang kita dapati dari peradilan itu? Mari kita lihat.
Dalam peradilan itu Sanhedrin bertanya dengan pertanyaan yang bernuansa tuduhan, kalau-kalau Yesus adalah Mesias. Yesus menjawab bahwa sekalipun Ia mengatakan bahwa diri-Nya adalah Mesias namun mereka tidak akan percaya, dan sekalipun Yesus bertanya kepada mereka, mereka tidak akan menjawab. Artinya bagi Yesus sebenarnya sia-sia menjawab dan menanggapi pertanyaan-pertanyaan Majelis Sanhedrin itu.
Hal pertama yang dapat kita lihat di sini ialah Yesus tidak berusaha membela diri. Mengapa? Di satu sisi karena Yesus tahu, seakurat apapun pembelaan yang Dia ajukan, itu tidak akan menghentikan skenario yang sedang mereka jalankan untuk membunuh-Nya. Yesus tahu itu. Namun di sisi lain, Yesus tidak berusaha membela diri karena Dia pun sedang menjalankan skenario Bapa di Surga, yaitu untuk mati di kayu Salib.
Dalam tanggapan Yesus selanjutnya Ia berkata, “mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.” Ungkapan duduk di sebelah kanan Allah dalam tradisi Yahudi merupakan sebuah ungkapan alegoris yang menunjuk pada Pribadi pemegang otoritas ke-Allah-an sejati. Karena itu tidak heran Majelis Sanhedrin langsung bertanya, “kalau begitu Engkau ini Anak Allah?” Lagi-lagi Yesus merasa tidak perlu ada penjelasan atas pertanyaan mereka, sehingga Yesus hanya menjawab, “kamu sendiri berkata bahwa Akulah Anak Allah.” Mengapa? Yaitu di satu sisi sekalipun Yesus memberi penjelasan dan bukti mujizat bahwa Dia adalah Mesias Anak Allah, itu percuma saja karena Yesus tahu skenario mereka untuk membunuh Yesus sedang dijalankan, dan Skenario Bapa di surga untuk Yesus mati terbunuh juga sedang dijalankan.
Maka Majelis Sanhedrin memutuskan: Tidak perlu ada saksi lagi, karena telah didengar dari mulut Yesus sendiri tentang pengakuan-Nya sebagai Anak Allah. Artinya, Yesus layak dihukum mati atas tuduhan menghujat Allah. Orang yang mengaku sebagai Anak Allah adalah orang yang menghujat Allah, dan dalam hukum Musa, dosa menghujat Allah berkonsekuensi hukumkan mati.
Vonis sudah diambil. Yesus harus dihukum mati. Suatu peradilan singkat, tanpa saksi (di bagian lain dikisahkan para pemimpin agama Yahudi mengajukan saksi-saksi dusta), yang menghasilkan vonis hukukman mati. Suatu peradilan yang jelas tidak adil, tidak didasarkan pada prinsip peradilan hukum Musa. Suatu peradilan yang dilaksanakan sebagai skenario.

Jemaat yang dikasihi Tuhan.
Skenario adalah tahap-tahap aksi atau tindakan dalam sebuah rencana yang sistematis.
Ada dua skenario. Pertama, skenario membunuh Yesus untuk menyelamatkan posisi diri. Kedua, skenario mati di bunuh untuk menyelamatkan manusia. Yang pertama skenario yang jahat, yang kedua skenario yang baik. Skenario yang jahat berpola mengorbankan orang lain demi menyelamatkan diri. Skenario yang baik berpola mengorbankan diri demi menyelamatkan orang lain.
Dalam konteks ancaman wabah covid 19, skenario apa yang kita jalankan? Seenaknya bepergian demi kepentingan diri sekalipun mengorbankan orang lain, atau berkorban diam di rumah demi keselamatan keluarga dan orang lain? Saudara, anda mungkin sehat kuat, termasuk kuat iman sehingga kebal terhadap virus. Sekalipun virus covid 19 menempel di tubuh anda bahkan tenggorokan dan paru-paru anda, anda tidak akan jatuh sakit. Akan tetapi bagaimana dengan orang di sekitar anda? Mungkin mereka tidak sekuat anda. Mungkin mereka keluarga anda, anak, istri, orang tua anda, atau mungkin sahabat dekat anda. Saat anda dekat mereka virus yang ada di tubuh anda bisa berpindah ke tubuh mereka dan menewaskan mereka. Karena itu marilah kita jalankan skenario pemerintah untuk memutuskan rantai penyebaran virus covid 19 ini.

Jemaat Yang dikasihi Tuhan.
Skenario jahat dan skenario baik selalu merupakan pilihan yang ada di hadapan kita ketika kita berkeluarga, bermasyarakat, berjemaat, berkomunitas, bekerja dan dalam konteks apa saja. Jauhlah kiranya dari kita segala skenario jahat seperti yang dijalankan para pemimpin agama Yahudi, yang mengorbankan Yesus demi sebuah kedudukan, jabatan dan kelimpahan materi. Mari meneladani Yesus yang menjalankan skenario baik dengan mengorbankan diri-Nya demi keselamatan banyak orang. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here