‘Bote’ Sang Pahlawan Nasional dari Desa Bantik Minanga-Malalayang

0
187
Robert Wolter Mongisidi
Robert Wolter Mongisidi

SuluTimes.com-Manado, Bote’ adalah panggilan kesayanagn Robert Wolter Mongisidi, Pahlawan Nasional yang berasal dari Desa Bantik Minanga-Malalayang Kota Manado Sulawesi Utara. Bote dilahirkan di Manado pada tanggal 14 Februari tahun 1925, tepat di hari Valentine’s day atau hari Kasih Sayang, dari pasangan Petrus Monginsidi dan Lina Suawa.

Bote memulai pendidikannya pada tahun 1931 di HIS (Hollands Inlandsche School), sesudah itu melanjutkan pendidikan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijsatau) di Frater Don Bosco Manado. Bote juga pernah belajar bahasa jepang pada sebuah sekolah di Tomohon, dan mengajar Bahasa Jepang di Liwutung, Minahasa dan Luwuk-Sulawesi Tengah, sebelum berangkat ke Makassar-Sulawesi Selatan.

Perjuangan Bote mempertahankan Kemerdekaan RI dimulai di Makassar.  Pada tanggal 17 Juli 1946, Bote dengan Ranggong Daeng Romo dan para pejuang lainnya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), yang selanjutnya melecehkan dan menyarang posisi Belanda. Dia ditangkap oleh Belanda pada 28 Februari 1947, tetapi berhasil kabur pada 27 Oktober 1947. Belanda menangkapnya kembali dan kali ini Belanda menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Dengan semboyan ‘Setia Hingga Terakhir Didalam Keyakinan’, Robert Wolter Monginsidi dieksekusi oleh tim penembak pada tanggal 5 September 1949. Jasadnya kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Makassar pada tanggal 10 November 1950.

Kepergian Bote dalam usia yang sangat muda, meninggalkan kesan yang sangat mendalam dihati Saudara-saudaranya, teman-teman seperjuangan bahkan generasi muda saat ini. Intelektual, Keberanian dan Nasionalisme dari Bote, tetap hidup dalam gerak juang generasi muda saat ini.

Robert Wolter Monginsidi dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 6 November, 1973. Dia juga mendapatkan penghargaan tertinggi Negara Indonesia, Bintang Mahaputra (Adipradana), pada 10 November 1973.  Penghargaan tersebut diterima oleh Ayahnya, Petrus Mongisidi  yang telah berusia 80 tahun pada saat itu. (JO)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here