Berhasil Buat Resolusi Kebijakan, Mopeng Wakili Indonesia Di Sidang PBB

0
47
Delegasi Indonesia Dwidyawati Esther Mopeng.(foto:ist)

 

SULUTIMES, New York – Future We Want Model United Nations (FWWMUN) untuk Simulasi Sidang PBB digelar di Markas Besar PBB (United Nations Headquaters) New York pada 8-11 Maret 2018.
Sidang ini dihadiri oleh lebih dari 2000 delegasi dari 130 Negara di dunia. Indonesia pun mengikutinya dan ada 15 delegasi yang hadir dalam acara yang diorganisir oleh Italian Diplomatic Academy (IDA) dan World Federation of Model United Nations Associations (WFMUNA).
Setiap delegasi dibagi perkomite dan merupakan representatif dari beberapa negara seperti, General Assembly Legal Committee, The Commission On Crime Prevention And Criminal Justice, United Nations Security Council, Special Political And Decolonization Committee, Commission On The Status Of Women, Disarmament And International Security, Economic And Financial Committee, Social, Humanitarian, And Cultural Committee, World Health Assembly, Economic And Social Council, United Nations Environment Assembly.
Di dalam komite inilah setiap delegasi dapat menjelaskan posisi dari negara yang mereka wakili terkait dengan isu yang dibahas.
Salah satu delegasi Indonesia representatif dari Ukraina, membahas tentang General Assembly Legal Committee dengan membahas topik pertama Criminal Accountability of United Nations Officials and Experts on Mission dan topik ke dua Consideration of Prevention of Transboundary Harm from Hazardous Activities and Allocation of Loss in the Case of Such Harm, adalah Dwidyawati Esther Mopeng.
Dikatakan wanita kelahiran Manado 2 Mei 1995 ini, dalam Simulasi sidang ini kita bukan hanya diajarkan tahu permasalahan negara sendiri namun juga mempelajari permasalahan negara lain.
“Simulasi Sidang ini merupakan wadah bagi generasi penerus yang memiliki ketertarikan di bidang negosiasi dan diplomasi dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi atau pernah terjadi,” ujar alumni FISPOL Unsrat 2016 (Sarjana Ilmu Politik) yang memiliki hoby traveling (Solo Traveler) dan sudah keliling ke 24 Provinsi di Indonesia sendiri.
Keseruan Simulasi Sidang Umum PBB ini dirasakan sejak menjalani proses seleksi dimana delegasi diharuskan menuliskan sebuah essay dan CV.
“Saya membuat essay mengenai motivasi ikut serta, tujuan, target, dan pandangan umum tentang topik utama konferensi dan mengumpulkan CV khususnya prestasi dan pengalaman MUN sebelumnya juga pengalaman konferensi Internasional lainnya), dan dalam beberapa kategori ada wawancara lanjutan. Sebelum mengikuti konferensi, saya melakukan persiapan selama kurang lebih 3 bulan dengan melakukan riset dan pemahaman topik sesuai pembahasan yang telah didapat dari penyelanggara kemudian membuat position paper,” tutur putri dari pasangan Alexander Mopeng dan Jeane Ticoalu ini.

Dwidyawati Esther Mopeng

Lanjutnya, dalam pembahasan selama konferensi berlangsung, kami membuat kelompok agar resolusi yang kami buat berhasil dan dapat menjadi rujukan kebijakan untuk Komite Hukum Majelis Umum PBB.
Simulasi ini sangat menantang karena para delegasi harus mengadu kemampuan komunikasi, kepemimpinan dan pemecahan masalah dengan ratusan perwakilan dari delegasi negara lain. “Dalam resolusi akhir yang diajukan, disetujui oleh perwakilan delegasi dari 53 Negara yang berarti resolusi kami diterima atau dinyakatakan berhasil,” jelas Mopeng, mahasiswi Magister Ilmu Administrasi Publik Universitas Indonesia
“Saya sangat senang, karena kekuatan negosiasi dapat menunjukkan bahwa dengan kekuatan dialog dan diplomasi kita bisa mencapai sebuah kesepakatan,” tambah mahasiswi Magister Ilmu Politik Universitas Nasional ini.
Resolusi yang menjadi rujukan kami adalah menghukum pejabat yang melakukan kejahatan dalam misi perdamaian.
“Beberapa proposal kami seperti, memberdayakan pengadilan pidana yang ada di bawah organisasi PBB untuk melanjutkan kasus-kasus baru dan lama, memperbaiki program pelatihan dan pendidikan yang saat ini ditawarkan oleh Austria, penggunaan media digital untuk akses informasi yang lebih baik,” beber Mopeng.
Kelompok kami memiliki kelompok yang kompetitif yaitu Meksiko serta negara-negara pendukung lainnya, namun mereka bukanlah pesaing kami karena mereka mempertahankan resolusi terbaik menurut mereka.
“Kami menunjukkan bahwa Meksiko adalah negara yang kompetitif secara Internasional dan siap untuk berkontribusi menjawab tantangan masa depan,” imbuh Politisi Muda Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini sembari berharap dengan mengikuti Simulasi Sidang PBB ini, meningkatkan rasa tanggung jawab menjaga perdamaian dunia dan menjaga keharmonisan hubungan masyarakat.
“Selain itu juga dapat menginspirasi anak-anak muda Indonesia untuk membawa harum nama negara dalam kompetisi apapun dan siap bersaing,” kunci Pemilik usaha @angkaterumanado di Jakarta.

 

Redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini