“Ngaku Lepat”, Ba’Do Ketupat Jaton Turun Temurun Para Leluhur

0
17
Menu Ketupa jadi sajian utama dari Ba’Do Ketupat di Jaton.(sulutimes)

SULUTIMES, Minahasa – Tradisi Lebaran Ketupat atau yang lebih dikenal Masyarakat Lokal Kampung Jawa Tondano (Jaton) di sebut Ba’Do Ketupat merupakan tradisi yang di bawah para leluhur Pahlawan Kyai Majo bersama pengikutnya yang hingga saat ini masih terjaga.

Perayaan yang dilakukan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri ini mengandung makna mendalam bagi masyarakat Jawa Tondano (Jaton). Selain ajang silaturahmi sesama saudara, kerabat dan sahabat, Ba’Do Ketupat juga merupakan merupakan lebaran para umat Muslim yang melakukan puasa Sunah di Bulan Syawal setelah puasa Bulan Ramadhan.

Setelah melaksanakan tradisi puasa Syawal selama 6 hari berturut-berturut mengikuti anjuran baginda Rasul Muhammad SAW yang nilainya sama dengan berpuasa setahun lamanya.

Hal ini nampak seperti, Rabu (12/6/2019) masyarakat Jaton pada hari ke 7 dipagi hari melaksanakan do’a tolak balak dan syukuran telah berpuasa Ramadhan sebulan ditambah puasa Syawal 6 hari.

Do’a dilaksanakan pukul 08.00 pagi di Masjid tanpa sholat (kecuali sholat sunat tahyatul Masjid), setelah do’a pukul 09.00 baru bisa menjamu tamu di rumah yang akan bersilaturahmi yang belum sempat bermaafan di 1 Syawal.

Di hari ke 6 puasa Syawal warga Jaton masih melakukan persiapan buka puasa dan persiapan untuk menjamu tamu besok hari (hari ke 7 Syawal), jadi warga Jaton belum menjamu tamu di malam hari pada hari ke 6 Syawal karena belum dilakukan do’a tolak balak dan syukuran serta masih melakukan persiapan segala sesuatunya. Hari ke 7 Syawal pukul 09.00 pagi adalah saat mulai menjamu tamu sampai malam hari yang kami sebut ba’do ketupat yang berarti “Ngaku Lepat” (mengakui kesalahan,red). Itulah adat dan budaya sebenarnya Jaton yang bernuansa Islam.

Diketahui, tradisi Ba’Do ini dibawa oleh para mbah dari tanah Jawa,  warisan tradisi yg tidak sekedar budaya. Tapi tradisi penyambung silahturahmi yang mengeratkan ikatan.

Bupati Minahasa Royke O Roring dan Wabup Robby Dondokambey merayakan Ba’Do Ketupat bersama warga Jawa Tondano.(ist)

Ikhwal Ba’Do di tahun 2019 ini pun menjadi sesuatu yang bermakna untuk ditelusuri oleh sulutimes.com. Terpantau, hadir dan ikut memeriahkan Ba’Do ketupat Jaton kali ini, Bupati Minahasa Royke Oktavian Roring dan Wakil Bupati Minahasa Robby Dondokambey (ROR-RD).

Dalam Kunjungan Bupati ROR mengatakan, tradisi Budaya Lebaran Ketupat (Ba,Do Ketupat). Sejak Dulu Kala sudah menjadi tradisi masyarakat Muslim Jaton.

“Ini merupakan Aset Budaya Masyarakat Muslim yang ada di Minahasa yang harus di jaga selalu. Toleransi umat beragama masihi kita jumpai di Jawa Tondano karena yang datang ke Jaton bukan hanya penduduk Minahasa bahkan ada yang datang dari luar daerah misalnya Gorontalo, Palu, Ternate, Makasar bahkan dari Jawa hanya untuk bersilaturahmi dengan Keluarga yang ada di Kampun Jawa Tondano,” terang Bupari Roring.

Pantaun sulutimes.com, dalam perayaan Ba’Do Ketupat berbagai menu makan khas Jawa Tondano bisa kita jumpai seperti berbagai macam model Ketupat, Jaang Dodol Jawa, Nasi Jaha, Gelali, dan tujuh makanan Khas Jawa Tondano lainnya.

Nampak pula para tamu yang datang selain menjalin keakraban silahturahmi, begitu menikmati sajian bermacam-macam menu khas yang tersaji.

 

Yudi/Jakas

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here