KARUNIA PRIBADI UNTUK MEMBANGUN BERSAMA Renungan 1 Korintus 12:1-11

0
6922

Oleh : Pdt. Deni L. Waljufri

Seringnya kita mendengar suara-suara orang per-orang yang dengan bangga merasa berjasa atas pelayanan gereja. Apalagi bicara pembangunan fisik; mungkin karena berkaitan dengan dana (?) atau bangunan yang kelihatan megah berdiri. Tapi untuk hal-hal kecil seperti kostor yang membersihkan gedung gereja setiap hari, jarang atau bahkan tak pernah mendapat apresiasi. Demikian pun, jika seorang pendeta berkhotbah berapi-api atau humoris mendapat pujian tak henti, tapi kelompok kantoria yang menyanyi dengan sungguh-sungguh sepertinya hal yang biasa-biasa saja.

 

Pembedaan seperti ini disadari atau tidak, menimbulkan perbedaan rasa di hati jemaat. Tak jarang menjadikan pelayanan yang satu seakan-akan lebih tinggi dari yang lain. Semacam strata karunia. Parahnya, jadi sombong rohani!
Ternyata sejak awal gereja ada di muka bumi ini, hal ini telah menjadi isu hangat sehingga ditulislah oleh Rasul Paulus.

 

Ada semacam permasalahan yang muncul berkaitan dengan karunia pribadi. Meski perikop ini Paulus belum menyinggung masalah itu, tapi perikop selanjutnya ia membahas habis-habisan tentang karunia-karunia ini (Pasal 12-14). Karunia tertentu, kebanyakan dalam keadaan trans (dikuasai roh) atau bisa berbicara dalam bahasa aneh dengan berekstase seakan-akan menunjukkan status rohani seseorang. Parahnya, karunia seperti ini dianggap lebih tinggi dari karunia yang lain, dan orang-orang mulai mengejar karunia-karunia seperti ini, meskipun mereka dikaruniai karunia yang lain.

 

Jadi Paulus menasehatkan jemaat bahwa karunia-karunia itu banyak ragamnya. Ada yang bisa berkata-kata dengan hikmat, ada yang berkata-kata dengan pengetahuan, ada yang menyembuhkan, membuat mujizat, bernubuat, membedakan roh, berbahasa roh, tapi juga menafsirkannya. Tapi ingat! Walaupun berupa karunia tapi satu Roh (ayat 4), rupa-rupa pelayanan tapi satu Tuhan (ayat 5), ada berbagai perbuatan ajaib, tapi satu Allah yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.

 

Itu intinya! Tak boleh ada yang merasa lebih hebat dari yang lain karena karunia yang dimilikinya, karena karunia itu toh juga adalah pemberian Allah. Karunia itu penting, tapi kehidupan berjemaat lebih penting. Mengejar karunia-karunia itu tidak salah, tapi jangan untuk menyombongkan diri. Pakailah untuk membangun persekutuan jemaat.

 

Bagaikan beberapa orang dipercayakan membangun rumah. Ada yang merancang, ada yang ahli di bidang dinding, ada khusus yang membuat pintu dan jendela, ada juga yang mengecat tembok. Setelah rumah selesai, siapa yang bisa mengklaim itu hasil kerjanya? Tidak ada. Karena yang empunya rumah itu adalah pemiliknya.

 

Mari merenung. Siapa di antara kita yang masih merasa bangga dengan kerja kita di pelayanan gereja? Seakan-akan kita lebih baik dari yang lain. Seakan-akan karunia kita lebih suci dan lebih dihargai. Surat Paulus ini menegur perilaku demikian. Bila ada karunia-karunia yang kita miliki, syukuri itu dengan penuh kerendahan hati sebagai pemberian. Namanya juga pemberian, yah berarti kita terpilih memilikinya karena pemberinya memilih kita. Jadi, pakailah itu untuk menguatkan tubuh Kristus bukan kebanggaan pribadi.

(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini