Your Ads

Monday, Feb 18, 2019
HomeActual & ValidEkonomi & BisnisUntung Rugi Tetap dan Pindah RKUD

Untung Rugi Tetap dan Pindah RKUD

Bank Sulutgo - BNI 46

Oleh: Janni Kasenda

TERUS berkecamuknya kisruh pemindahan Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) di Bank Sulut-Gorontalo (BGS) membuat sejumlah pihak saling mengklaim untung ruginya tetap atau berpindahnya RKUD.

Siapakan sejumlah pihak tersebut, tentu dan tak lain adalah pihak Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara sebagai pemegang saham terbesar BSG dengan jumlah 36,64 persen (data base bank sulutgo,red) diikuti para Pemegang Saham lainnya yaitu sejumlah Kabupaten/ Kota yang tersebar di 15 Pemerintah daerah (Pemda) se Sulut dengan jumlah saham bervariasi.

Nah.. Kisruh ini mengemuka tak kala, Pemkab Bolmong melalui Bupatinya Yasti Mokoagouw secara sepihak tanpa koordinasi dengan pihak Pemprov Sulut memindahkan RKUD Pemkab Bank BUMN, yaitu Bank BNI.

Tak ayal, seakan seia sekata, bakal diikuti sejumlah daerah lainnya, contoh yang paling singkron adalah Pemkot Manado, Pemkot Kotamobagu, Pemkab Minut dan santer terdengar Pemkot Bitung pun segera mengikuti jejak.

Mendengar dan mengetahui hal tersebut, orang nomor satu di jajaran Pemprov Sulut, Gubernur Olly Dondokambey SE, berang. Pasalnya, dikatakan Gubernur Olly yang santer beredar di sejumlah media mengatakan akan mengamankan asset daerah.

Diketahui bersama bahwa Bank Sulut-Gorontalo merupakan bank daerah yang dikelola secara bersama Pemprov Sulut dan 15 kabupaten/ Kota se Sulut di tambah dengan pemegang saham lainnya PT Mega Corpora (24,90%,red).

Demi mengamankan asset daerah yang telah lama memberikan kontribusi PAD bagi seluruh kabupaten/ kota di Bumi Nyiur Melambai, yaitu Bank Sulut-Gorontalo, Saya akan menggunakan ‘kekuatan’ dalam kapasitas sebagai Gubernur Sulut, Langkah ini saya ambil dengan sangat terpaksa karena melihat ‘manuver’ dari bank BUMN BNI sudah berlebihan. Karena sudah mulai merusak tatanan perekonomian di daerah,” tegas Gubernur Olly, Kamis (07/02/2019) lalu.

Apa alasan Gubernur Olly..?? Sebab setelah Pemda Bolmong yang telah memindahkan Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) ke BNI, kabarnya Pemkot Manado dan Pemkot Kotamobagu segera akan bergabung. Lebih ironis lagi, berhembus kabar baru bahwa Pemkab Minut akan juga menyusul.

“Imbasnya adalah potensi kredit macet ASN dengan jumlah yang tidak sedikit. Contohnya di Pemkab Bolmong total 2900-an ASN yang sudah mengambil kredit di BSG, dengan jumlah keseluruhan Rp480 miliar,” terang Gubernur Olly.

Sementara itu, sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemkot Manado mulai bertanggapan dengan timbulnya wacana bakal/ akan dipindahkannya RKUD Pemkot Manado ke BNI 46.

Terlontar tanggapan bervariasi mengemuka, mereka menyetujui ketika Pemkot manado memindahkan RKUD dari BGS ke Bank BNI 46. Alasan mereka, untuk kredit pegawai di BSG, suku bunga kreditnya tergolong tinggi dibandingkan dengan BNI 46.

“Saya sangat setuju RKUD Pemkot dipindahkan ke BNI 46. Saya telah mengambil jenis Kredit Pegawai Negeri Sipil (KPNS-red) di Bank SulutGo, suku bunga kreditnya 15 %. Saya bandingkan dengan suku bunga kredit BNI 46 itu di mulai dari 5 % dan itu sudah saya cek di BNI 46. Kalau hitung-hitung dengan kredit yang saya ambil di BSG saat ini, dengan jumlah plafont kredit saya, dibandingkan dengan suku bunga kredit di BNI 46 ada selisih kisaran 50-an Juta Rupiah. Tapi sudahlah, saya tinggal membayar kewajiban dari kredit yang saya sudah ambil di Bank SulutGo. Tapi saya sangat setuju Pemkot Manado pindahkan RKUD di BNI 46, demi kesejahteraan ASN karena banyak fasilitas dapat dimanfaatkan ASN dengan bunga yang tidak terlalu tinggi,” tandas ASN Pemkot Manado yang meminta namanya untuk tidak dipublish.

Ditambahkan ASN Pemkot Lainnya, bahwa teman-temanya kantornya lain sudah ada yang mengajukan kredit dengan menjaminkan Surat-Surat atau SK PNS mereka bukan di BSG melainkan di Bank lain.

“Ada rekan-rekan kami sudah ada yang mengajukan kredit mereka bukan di BSG tetapi di Bank lain, karena perbandingan suku bunga kreditnya masih tergolong dibawah suku bunga kredit BSG,” tutur ASN Pemkot lainnya yang tidak ingin namanya disebutkan.

Kondisi ini ikut memicu Lembaga Studi Sosial dan Politik Tumbelaka Academic Centre (TAC) untuk melakukan studi lapangan.

Dan hasilnya, Direktur Eksekutif TAC Taufik M Tumbelaka mengatakan perlu adanya pembenahan internal dari BSG itu sendiri yang mana hasil pengamatan dan diskusi pihaknya, BSG harus melakukan pembenahan kedalam. Baik itu masalah pelayanan dan ‘sajian produk-produk’ yang ditawarkan kepada public.

Sependapat dan lebih spesifik, Penasehat TAC Franky Y Mugama mengatakan bahwa pembenahan yang dimaksud adalah mengevaluasi jajaran Komisaris. Karenanya. Gubernur Sulut Olly Dondokambey selaku pemegang saham mayoritas di BSG, harus melihat masalah ini dengan bijaksana serta lebih jeli melihat kinerja jajaran Komisaris BSG yang kalau perlu dievalusi.

“Seharusnya jika memang dalam laporan kinerja BSG baik, maka jajaran Komisaris perlu mengambil langkah proaktif khusus ketika ada indikasi ada pihak akan berpindah, karena pasti ada ‘sesuatu’,” tutur Mugama sembari menegaskan bahwa di era persaingan usaha ini, inovasi dan kreativitas perlu dilakukan, termasuk di dunia perbankan.

“Zaman sekarang persaingan dunia usaha, terlebih khusus perbankan sudah sangat ketat seperti ini, kita tidak bisa cuma ‘diam’ dan terlena dengan cara-cara lama. Harus proaktif dan kreatif agar bisa menjawab tantangan persaingan,” tandas Mugama.

Berbeda tanggapan, pengamat ekonomi Robert Winerungan menilai hal ini bisa berimbas pada pelayanan masyarakat.

“Sebab jika kredit macet, maka ASN akan berurusan dengan aparat hukum, hingga mengganggu kinerjanya. Bayangkan jika ribuan ASN yang bermasalah, bagaimana dampaknya pada pelayanan masyarakat,” ujar Winerungan mengingatkan.

Nah.. Dapat disimpulkan berbagai tanggapan diatas bahwa ada pihak yang menyetujui dan tidak menyetujui, namun jika dalam kacamata keuntungan daerah, tentu sangat berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta merta secara tidak langsung bakal mengurangi PAD yang menjadi tulang punggung pembangunan daerah.

Pula, berbagai tanggapan yang bermunculan baik secara spekulan maupun akurat tersebut, tentu memiliki nilai positif maupun negatifnya dengan cara berfikir manusia yang tanpa disadari pasti ada pihak bakal dikorbankan, selain Pihak Pemegang Saham BSG, Pemkab/ Pemkot Pemegang saham serta yang paling berdampak adalah ASN dan tentu keluarga mereka.

Akibat dari kisruh ini, santer saat ini, pihak BSG mulai memanggil sejumlah kreditur untuk ‘mempertanggungjawabkan’ hutang yang disandang oleh sejumlah ASN. Siapakah yang terdampak..??

So.. Solusi paling ampuh, Penulis pun berharap, sebaiknya para pemegang saham dapat duduk bersama mencari  jalan keluar yang baik agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Hindari saling tuding keuntungan ini, itu yang bakal didapatkan, namun dalam kebersamaan torang ingat jo filosofi Dr Sam Ratulangi, Sitou Timou Tumou Tou, ‘Manusia Hidup Untuk Memanusiakan Orang Lain’ dalam bermasyarakat yang hidup di Bumi Nyiur Melambai ini.(*)

Comments

comments

BAGIKAN:
Astaga Password SMA
Peringati 3 Tahun Ke

viktory.rotty@yahoo.com

Rate This Article:
NO COMMENTS

LEAVE A COMMENT

Pin It on Pinterest

Share This